Saturday, March 4, 2017

Fakfak My Second Home; January 2014

Oke, berkaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang ketamakan manusia yang suka foto2 tapi kemudian menjadi sampah di hardisk, maka saya lanjutkan kegiatan saya mengabadikan foto2 tersebut di sini beserta cerita di dalamnya. Sebelum postingan ini, saya posting foto2 jadul dari jaman SMA, baru 1 folder kemudian malas, hahaha. Kali ini karna ada hutang sama mama Ihsan untuk posting all about Fakfak, makanya saya buka2 lagi folder foto selama saya di Fakfak, yang dibagi berdasarkan bulan. Kali ini saya mau posting foto2 dari kegiatan saya di bulan Januari, sulit banget untuk pilih hanya 1 foto dari setiap foldernya yang kadang ada ratusan foto. Inilah foto2 terpilihnya, cekidot!


1.      Mandi Safar, salah satu budaya yang masih dijalankan setiap tahunnya mengikuti kalender Islam, kalau gak salah bulan Rabiul Awal. Di sini tradisi masyarakatnya mereka bikin tenda di lapangan hari sebelumnya. Keesokan hari, sebelum matahari terbit, seluruh masyarakat 1 kampung berduyun2 ke tenda yang mereka bikin kemudian masak makanan untuk dimakan 1 kampung. Mereke menggelar kain panjang di jalan setapak, kemudian menyajikan makanan yang sudah dimasak. Seperti biasa, ada hidangan wajib yaitu kopi, teh, pisang goreng, lontar (ini enak banget!), molen, dan tentu kore! Kore, hahaha, klo inget pertama kali saya makan kore suka ketawa sendiri. Dibuat dari kacang kenari yang ditumbuk kemudian digoreng, bentuknya seperti pasir, dimakan bersama dengan pisang, dalam hati saya waktu itu “oke, makan pisang pake pasir, hajar jri!”, itu sebelum saya tau bahan asli kore apa. Rasanya? Awalnya saya ga suka, seperti ngunyah pasir, tapi setelah beberapa kali makan malah saya sering nanya kalau lagi ada acara adat, “mama ada kore kah?”. Setelah makan besar 1 kampung, kami main air! Jadi setiap orang harus nyebur ke laut, trus supaya seru kita rame2 kejar2an satu sama lain untuk saling melempar orang lain ke laut. Tua, muda, laki, perempuan, semua kejar2an, cari orang untuk dilempar ke laut, bahkan bapak imam pun yang usianya udah sepuh dilempar ke laut, it was extremely fun! Setelah main air, yang laki2 main bole, yang perempuan main voli. Sore baru pada balik ke rumah masing-masing.

Anak-anak usia SD di sini beda banget dengan anak2 di kota. Benda tajam seperti parang ibarat pedang2an bagi anak2 kota, bedanya yang ini beneran. Mereka sangat terampil menggunakan parang. Keterampilan ini pun saya manfaatkan dengan memfasilitasi ide anak2 untuk bikin parapara di pinggir laut, semacam bale tempat duduk atau tidur2an, intinya tempat bersantai lah. 

Hari sabtu adalah harinya ekstrakurikuler, jadilah saat itu anak2 kerja bakti ada yang cari bambu, bersihin kelas, potong rumput di lapangan pakai mesin, dan membuat parapara. Semua dilakukan sama anak SD, gimana saya gak bangga sama mereka coba. Selesai parapara dibuat, ini pun jadi tempat favorit saya bersantai bersama anak2 sambil ditemani bunyi ombak dan angin laut yang gak pernah berhenti menyapa.

Foto ini diambil dari folder “goyang duyung”, hahaha, nama yang aneh. Jadi ini adalah saat kampung dihebohkan oleh warga yang lagi mancing tapi dapetnya ikan duyung. Kocaknya, saat kejadian ini di TV lagi rame banget sinetron putri duyung. Ternyata kepercayaan disini mengatakan kalau ikan duyung dulunya adalah manusia etnis tiongkok yang tenggelam di laut kemudian berubah wujud jadi ikan duyung, makanya sebelum dimakan, ada ritual adatnya dulu seperti foto di atas. Ikan duyung siripnya dilipat kemudian ditusuk kayu, telinga dan hidungnya ditusuk kayu, kemudian dibacain doa dan sambil menusuk kayu2 kecil tersebut tetua adat bicara sesuatu menggunakan bahasa kampung tarak sini. Setelah itu baru dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat di kampung. 

Sekampung pada ngumpul di 1 tempat ini buat liat ikan duyung, dan kocaknya karna kebanyakan orang diri di rumah kayu yang sebelah kiri, tiangnya pun rubuh dan orang2 pada jatuh, tapi untung gak ada yang luka yang ada malah pada ketawa2 rame banget, hahaha. Oiya, Menangkap ikan duyung ini bukan kegiatan rutin kok, setahun sekali pun tidak, kalau kebetulan ada yang ga sengaja kepancing aja baru dibawa ke darat dan dimakan. Saya sempet makan dagingnya yang sudah diolah, rasanya mirip2 daging rusa menurut saya. Tidak semua orang di kampung mau makan daging duyung karna kepercayaan orang sini yaitu dulunya duyung adalah manusia, unik.

Musim barat, momok buat warga kampung Tarak karena ombak laut menjadi ganas, angin kencang, dan hujan terus, sehingga masyarakat jadi sulit ke kota, begitu juga sebaliknya yang dari kota sulit kalau mau balik ke kampung. Tapi buat saya musim ombak seperti ini malah saat yang tepat buat main ombak di laut, hahaha *setelah itu diomelin warga*. Foto ini diambil di suatu sore saat saya asyik main ombak dengan anak-anak murid saya. Saat para pemuda asik main bola, saya malah kaya anak kecil yang asik main ombak. Lagi2 ada kearifan lokal di sini, jadi kata anak2 kalau mau ombaknya semakin besar kita harus melempar batu ke arah ombak datang, jadilah saat itu anak2 melempar batu ke lautan supaya ombaknya makin besar.

Maulud, di Distrik Karas, ritual keagamaan yang 1 ini justru lebih rame dari Idul Fitri, kenapa? Acara Maulud ini digelar di setiap kampung, ada 6 kampung di 1 distrik Karas, di acara Maulud ini seluruh tokoh agama dan anak2 muda dari 6 kampung berkumpul di 1 kampung yang sedang bikin acara Maulud. Jadi tiap kampung bergantian bikin Maulud. Nanti 1 kampung ditunjuk jadi penutup, nah penutupnya ini lah yang bakal super rame. Acara intinya di sini adalah baca doa, shalawat sambil main marawis, makan besar, setelah itu anak2 muda main marawis keliling kampung sambil shalawatan, dan mintain beras ke rumah-rumah. Sumpah ini acara seru banget, meriah! Setiap rumah sibuk membuat makanan, bahkan saya ikutan bikin kue waktu itu, bikin onde2 susu sama puding di rumah mama tua. Damn! I really miss them now :(

Ini adalah iring2an ke masjid sebelum shalawatan dan baca doa. Beberapa tokoh adat membawa Al Qur’an yang udah tua banget, buku doa dan shalawatan, air putih, dan kemenyan. Kemenyan ini adalah sesuatu yang gak bisa dilepas dari segala ritual keagamaan. Jadi sambil baca doa nanti bapak imam bakar kemenyan, awalnya saya agak risih karena baunya tapi lama2 ya biasa aja sih, karna tiap acara pasti saya duduknya ditempatin di sebelah bapak imam, jadilah baunya santer banget.

 Foto ini diambil saat perpisahan dengan ibu kepala sekolah, karena beliau dipindahtugaskan ke kampung yang lain. Meski banyak drama yang terjadi sebelumnya, tetep yang namanya perpisahan itu menyedihkan sih, anak2 yang innocent tetep merasa kehilangan sosok beliau. Saya pun berkaca2 terus sepanjang pengambilan gambar. Setidaknya beliau sempet ke Jakarta untuk antar siswanya yang lomba menulis waktu itu, jadi ada kenang2an yang berharga lah atas jasa2nya selama ini.

 Nemo Family! Waktu saya ke Fakfak saya sengaja beli kamera underwater saat tau penempatan saya di pulau, sayang donk kalau keindahan bawah laut pulau ini gak diabadikan. Sebagai bentuk kepercayaan saya juga sering kasih kamera saya ke anak murid buat mereka berkreasi di bidang fotografi. Ternyata, hasil foto siswa saya Moksen, bagus banget! Ini adalah hasil jepretannya saat kami molo2 alias menyelam liat karang di depan pulau. Yep, dulu saya kalau mau snorkeling cukup melakukannya di depan pulau kami, gak perlu jauh2, what a heaven!

....and I catched this sunrise from my heaven, my second home, Tarak....

Sunday, February 26, 2017

Picture Stories

Hey there! Waw, tepat 1 tahun saya tidak meninggalkan jejak di blog ini, sayang sekali padahal di blog ini lah saya bisa menceritakan segala momen yang berharga untuk dikenang. Saya terkejut betapa blog adalah media untuk melihat perkembangan pribadi si penulis. Dulu saya pernah membaca semua tulisan saya di blog yang lama, dengan bahasa yang masih sangat alay *mungkin sekarang masih*, dan somehow saya enjoy banget baca tulisan di blog saya itu yang sukses bikin saya seperti kembali ke masa tersebut. Nah, untuk menyimpan kenangan saya dalam bentuk tulisan, kali ini saya mau posting tentang foto-foto jadul alias jaman baheula.

Saya pernah baca bahwa ketamakan manusia di era modern ini ditunjukkan dengan banyaknya foto yang tersimpan dalam memori komputer/laptop/hardisk mereka. Jumlah foto yang tersimpan bisa jadi ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan files, yang mana foto2 tersebut sudah tidak pernah dilihat kembali oleh si pemilik, atau mungkin dilihatnya pun tidak 1 tahun 1x, kurang dari itu, foto2 itu tersimpan begitu saja. Saat saya mau membackup seluruh foto2 saya *termotivasi oleh kejadian naas hardisk teman saya yang rusak dan semua memori di dalamnya hilang* saya pun mengamini artikel tentang ketamakan manusia di era modern tersebut. Ratusan Giga di hardisk saya isinya hanya foto saja yang tidak pernah saya buka kembali selama bertahun-tahun.

Di postingan ini, saya mau post foto yang saya ambil 1 saja dari setiap folder foto2 saya, yang mana 1 folder isinya ratusan foto dan sangat sulit milih 1 foto paling penuh kenangan. Here we go, teruntuk Fajrie Nuary di masa depan yang akan senyum2 membaca kembali postingan ini :)

Foto ini diambil dari folder “Anime”. Dulu saya seneng banget anime “Prince of Tennis” ini. Diawali saat kuliah nonton film versi manusianya, seperti film Jepang lainnya yang lebay, cerita di film ini pun super lebay. Meski begitu, saya sukses menamatkan komiknya, saya masih inget kata2 yang diulang2 di komik tersebut, “mada mada dane” yang artinya “you still have a long way to go”.


Foto ini diambil dari folder AAPA, pertama kali *dan belum pernah lagi* jadi Liaison Officer. Bermodal nekat ikut seleksi buat jadi LO di acara International Conference buat dampingin delegasi dari luar negeri di acara AAPA ini, dan lolos, ajaib sih ini.


Bukan anak UI katanya kalo belom pernah ikut demo! Ini adalah satu2nya aksi demo yang saya ikuti selama kuliah di UI, waktu itu aksi Tugu Rakyat namanya, dan ketemu si Azmoy dari UGM buat ikutan aksi ini juga. Mayan lah buat pengalaman, hehehe.


HAHAHA! Foto ini diambil di Ancol, saat 7 orang anak kuliahan penasaran kaya apa si taman lawang itu. Jam 3 pagi kami berangkat dari rumah Yogi menuju taman lawang, ngeliat dari mobil para transgender berdiri menunggu pelanggan, agak horror sebenernya! Setelah itu kami nonton sunrise di Ancol. Foto ini sukses jadi wallpaper di hp dan laptop saya selama berbulan2!


Ini foto waktu nikahan Anin! Ehh ada Oki juga, lah saya mana?? Tidak lain dan tidak bukan saya yang motoin :( Sekarang Anin makin happy sama baby Raka, uhuyyy!


Nah kalau ini waktu kami diajak Adul ke Gathering BP di Snow Bay, berhubung waktu itu si Adul belom ada gandengan makanya ajak temen2 jomblonya yang lain, lumayan ke waterbom gratisan, haha


Kalau ini bukan lagi pada antri sembako ya, foto ini diambil waktu Do’a Bersama sebelum Ujian Nasional, yang dilanjut dengan salam-salaman ke semua guru dan semua teman angkatan, masih pada ingusan innocent gitu mukanya.


Fiscal On Tour (FOT) ke Dirjen Pajak kalo gak salah. Itu kenapa saya alay banget dah pake jakunnya, hadeuhh, emang bener ya sejatinya alay adalah proses yang dialami semua orang -_-‘


LDK Rohis SMPN 2 Depok, dulu saat masih lurus dan jadi kakak mentor di sekolah almamater. Apa kabar mereka sekarang ya?


Ini waktu reuni sekalian buka puasa bersama dengan saudara2 saya waktu di Kampung Inggris. Lagi-lagi saya kehilangan kabar mereka semua sekarang, padahal dulu 1 rumah selama 2 bulan.


Pertama kali ifthor sebagai alumni, masih banyakkk yang dateng euyy seru! *tapi itu kardus bisa kali dipinggirin dulu sebelum difoto* Kalau ga salah di ifthor ini pertama kalinya diresmiin nama angkatan kami Angkot 07 (angkatan nol tujuh a.k.a. 2007) dengan ketua Lingga.


Sebelum ke Papua ceritanya farewell sama temen2 ngaji, eh gataunya kagak ngaji lagi sepulang dari sana, zzttztzt


Ya Allah alaynya maksimal banget ya Allah, maafin Ya Allah.... Ini entah dalam rangka apa, kayanya waktu itu lagi iseng liat2 gedung baru yang belum jadi.


Bukan, itu bukan lagi pada seleksi Pildacil, waktu itu kami bikin teater “Intifadhah” yang menceritakan penderitaan rakyat Palestina atas agresi Israel, beuhhh,, berat banget ga sik! Sekolah boleh di Depok, tapi wawasan harus global donk :)


Muka bantal semua, abis itikaf di mesjid UI sama bocah-bocah binaan SMAN 1 Depok, bukannya langsung balik kakak mentornya malah ngajak foto2 dulu di jembatan UI.


Penasaran sama lokasi foto buku angkatan anak2 XII IPA 1, kami bertiga gak mau kalah foto di tempat yang sama, tapi sayangnya ilalangnya udah dipotongin jadi asa kurang ciamik *padahal emang modelnya yang pada alay jadi hasilnya ga ciamik*


Mabit di BI tahun 2008, dulu meski kami kuliahnya beda2 kampus, tapi kalau bulan Ramadhan pasti nyempetin untuk ngumpul sambil itikaf di masjid, biasanya di masjid UI sih, tapi waktu itu lagi mau coba di masjid BI dan ternyata rameeee banget! Terakhir kami itikaf bareng kapan ya? Lupa euyy saking udah lamanya :’(


Nemenin bocah2 Rohis ngedekor buat acara Maulid di SMPN 2 Depok, dulu saya milih untuk aktif di luar kampus yaitu di almamater saya baik SMP maupun SMA, tapi semuanya berubah saat negara api menyerang *lah?


Udin ulang tahun! Lagi2 saya ga ada di foto karna saya yang motoin. Waktu itu kordinasi dulu sama mamanya Dini buat kasih surprise di kamarnya si dinik, dan berhasil! Geng ini terbentuk waktu bikin buku tahunan angkatan, temen bolos NF bareng :p


Nah kalo yang ini kasih surprise waktu ulang tahunnya Yogi. Saaann muka lu saaann! Dan menariknya, lilin di atas kue ulang tahun yang kami pake adalah lilin batangan yang buat mati lampu bukan lilin kue yang kecil, dasar pemalas memang anaknya.


“Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya’ud”, teriak2 waktu munashoroh Palestina di Monas, dua tahun berturut ikutin kegiatan ini dan rame pisannnn.


Pameran Alutsista di Monas, sebagai anak tentara Yogi sangat merekomendasikan kami buat liat pameran persenjataan yang dimiliki TNI. Di foto ini momen unyu pun tertangkap, ekik bak anak yang sedang dipakaikan baret sama bapaknya, sumringah sekali.


Ini waktu kami alumni kampung inggris Pare ngumpul di Bogor jalan2 ke curug seribu.




3 foto di atas ini mewakili kehidupan 2 bulan di Pare, kampung Inggris. Tinggal di camp yang kecil dengan kamar mandi yang terakhir disikat kayanya pas jaman suharto (saking lamanya), plus bonus ikan di bak mandinya, tidur hanya beralaskan kasur palembang, berjejer 12 orang kaya ikan asin, demi ngomong Inggris dengan lancar yang ternyata gak lancar2 amat juga, hahaha. Tapi kenangannya gak akan pernah mati, 2 bulan yang sangat memorable.


Setelah SPMB kami refreshing ke vilanya Azmi di puncak. Gak banyak yang saya inget di sini selain Adul yang ketinggalan di stasiun, maen bola pagi, berenang, outbond, sholat berjamaah, doa bareng supaya lulus SPMB, dan ke curug pastinya!


Klo ini waktu rihlah gabungan nih jri, antara SMAN 1 Depok sama sekolah lainnya, ke curug nangka. Pertama kali ke sini dan ternyata tempatnya bagus, ada 3 curug dalam 1 kompleks.


Mengulang pose cover qosidah yang pernah kami bikin sebelumnya. Ini waktu main ke rumah Dini, ga ada acara khusus si ya cuma mau main aja, dan tetep kalo ngumpul sama orang2 ini ada2 aja ulahnya, rahang pegel karna ketawa2 mulu.


Dulu waktu masih di SMANSA kami selalu silaturahim ke rumah guru2 setelah lebaran, convoy rame pake motor, seru banget. Dan kegiatan ini masih berlanjut sampe tahun 2008 saat kami udah jadi alumni, dengan jumlah rombongan yang lebih sedikit tentunya karna jadwal libur kuliah yang beda2.


Sebelum SPMB tahun 2007 kami jalan2 ke Subang buat nikahan Bang Wasis, beliau ini kakak mentor yang legend banget lah, pertama kali muhasabah sampe nangis2 sama beliau nih waktu LDK Rohis. Jadilah beberapa dari kami bela2in dateng ke Subang buat jalan-jalan jadi saksi peristiwa bersejarah dalam hidupnya.


Tafakkur Alam terakhir sebelum lulus dari SMANSA, foto di telaga warna ini juga sempet iconic banget buat kami dulu. Jalan2 ke curug yang biasanya jadi menu wajib kalau TA diganti tracking ke telaga warna ini buat liat monyet, iya, monyet, semacam norak, hahaha.

Young Leader Talk, waktu itu kami para alumni Forum Indonesia Muda kumpul di Bandung buat reuni sekaligus diskusi asik tentang kondisi Indonesia terkini. Setelah bermalam di Oray Tapa yang keren banget, kami jalan2 di sekitar kota Bandung, museum KAA, jalan Braga, dll.

Woww, banyak juga ya, itu baru sampe folder event, masih banyak folder yang belum dibuka euy. Yahh, gak apa2 lah harus konsisten biar gak ilang segala kenangan yang ada di foto2 ini. Dilanjut di postingan berikutnya ya.

Friday, February 26, 2016

Short Escape to Cirebon

















Bagi saya, sering kali keseruan liburan itu bukan karena tempat tujuannya, tapi karena teman perjalanannya. Kenapa? Karena kalau fokus hanya di tujuannya alias tempatnya, dan ternyata tempatnya tidak sesuai ekspektasi maka hancurlah sudah mood ini. Sudah tempatnya gak sesuai ekspektasi, temen perjalanan ikut ngedumel juga dan malah nyalahin yang rekomendasikan tempat, yaudah BYE! Saya penganut setia paham Trinity Naked Traveler, “it’s not about the destination but the journey”, maka inilah yang selalu saya gembor2kan tiap kali saya mengelola sebuah trip bersama teman2 saya.

“The journey”, inilah kenapa saya lebih milih “pergi sama siapa” dibandingkan “pergi ke mana”, karena ketika teman perjalanannya udah asyik, easy going, gak manja, mau susah, gak akan masalah tuh kalau tempatnya akhirnya ga sesuai ekspektasi, atau kalau tiba2 di perjalanan ada kejadian tak terduga, dan kejadian2 gak mengenakkan lainnya, seluruh kejadian selama perjalanan akan dinikmatin dan dibuat asyik bareng2. Ini juga lah alasannya akhirnya saya memutuskan ikut trip ke Cirebon, tempat yang awalnya menurut saya biasa dan gak seru2 banget, tapi karena perginya sama temen yang (kayanya) seru makanya saya mengiyakan ajakan tersebut.













Lima anak alay kota mencari penghiburan saat weekend ditengah kepenatan bekerja. Jumat sore kami kumpul di Gambir, dengan tiket kereta seharga 135ribu kami siap lari sejenak dari ibu kota. Kereta malam pun melaju dengan nada jugijagijuk ala elvi sukaesih. Saat berangkat kami duduk berbeda gerbong, 2 teman kami asyik tertidur di perjalanan sedangkan saya asyik bercerita dengan bu sutradara. Oiya, saya belum bilang, 5 orang ini adalah anak2 Rentak Harmoni yang-gagal-move-on.

Sampai di Cirebon kami langsung cari nasi jamblang, konon nasi jamblang ini terkenal sekali di Cirebon. Bentuknya seperti nasi kucing, bedanya nasinya disajikan menggunakan daun jamblang (daun jati) sebagai pembungkusnya. Nasi jamblang Mang Dul, di sinilah tempat kami mengisi perut yang sengaja tidak diisi dari Jakarta, hasilnya? Ini adalah nasi jamblang terenak yang pernah saya makan! *mungkin karena ini pertama kalinya kamu makan nasi jamblang kali ya jri -_-





















Selesai makan kami langsung ke hotel, Hotel Asri namanya. Sebenarnya banyak cerita lucu di hotel ini, tapi untuk kemaslahatan bersama sebaiknya off the record saja. Hotelnya menurut saya sangat nyaman, kamarnya luas, kamar mandinya oke, ada kolam renang dan tempat gym juga, dan di lantai dasar ada super market, very recommended. Berbeda dengan trip2 saya sebelumnya yang kebanyakan nginep di rumah warga, home stay, atau losmen, kali ini karna nginepnya di hotel jadi ada waktu lebih banyak untuk leyeh-leyeh menikmati setiap momen, berenang jadi pilihan saya untuk menghabiskan pagi di hotel.
*pemandangan dari salah satu sudut hotel*
















                                    Jika sebelumnya saya cenderung menjadi flash packer yang setiap trip pengennya ke banyak tempat, kali ini saya mendapat pengalaman trip gaya baru yang lebih santai. Trip 2 hari 2 malam ini kami hanya mengunjungi 2 tempat saja, Telaga Nilem dan Gua Sunyaragi. Enaknya jadi flashpacker kita jadi bisa mengunjungi banyak tempat, tapi gak enaknya adalah jadi kurang menikmati karena seperti dikejar2, jadi kesannya cuma dateng trus foto2 trus udah. Nah, kalau yang kemarin meski hanya ke-dua tempat saja tapi kami menikmati banget momennya, quality time dengan teman2, foto2, makan2, ngobrol2, santai, relax, tidak dikejar2, sangat menyenangkan.

Telaga Nilem, butuh waktu 1,5 jam dari hotel untuk menuju tempat ini. Akses jalannya sudah bagus, tapi di petunjuk jalannya yang tertulis Telaga Remis bukan Telaga Nilem. Di sini ada sebuah kolam telaga yang cukup besar, seukuran kolam renang telaga pada umumnya. Air di telaga ini jernih, dingin, dan menyegarkan sekali. Sangat direkomendasikan untuk membawa kacamata renang kalau mau berenang di sini, karna bisa keliatan hijaunya dasar telaga ini. Sangat tidak direkomendasikan membawa sampo, sabun, apalagi detergent beserta cucian kotor karna akan sangat menggoda untuk nyuci-nyuci cantik di pinggir telaga ini. Ayo kita jaga kebersihan tempat wisata yang kita kunjungi ya! Oh iya, untuk masalah kostum, jangan hanya gunakan Instagram untuk referensi outfit kamu ke sana ya, bisa2 salah kostum nanti kaya temen saya yang kesana pakai bikini baju renang mini.
*keliatan banget kan kalo kami (kaya) akrab :p





















Setelah asyik berenang, foto2 dengan berbagai gaya, berenang lagi sampai tangan keriput, perut pasti laper, nah yang paling asyik adalah di sini ada ibu-ibu penjual sorga dunia; mie rebus+telor! Lagi kedinginan trus makan mie rebus+telor+gorengan, yang ada di kepala saat itu cuma bisikan halus “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” *teary-eyed*. Nah, sayangnya di sini tidak ada tempat nyaman untuk bilas ataupun ganti pakaian, jadi ya harus cari semak2 untuk ganti pakaian basah kita, untuk yang wanita saya kurang perhatikan, tapi sepertinya ada tempat yang lebih tertutup dibandingkan semak-semak atau dibalik bebatuan.

Selesai dari Telaga Nilem awalnya kami mau ke pemandian air panas palimanan, tapi karna capek dan males nyasar2 cari lokasi akhirnya kami memutuskan untuk ke batik Trusmi. Selama di Cirebon kami sewa Yaris dan yang nyetir adalah temen kami, sebut saja Meiske, seorang perempuan urban yang bisa mengendarai berbagai jenis kendaraan di berbagai medan, sedangkan 3 cowok di rombongan ini hanya bantu doa sambil setia nyuapin snack ke cici Meiske supaya tetap fokus nyetir. Pulang dari Telaga Nilem kami tentu kelelahan, tapi ancaman diturunin di tengah jalan dari cici Meiske membuat kami secara impulsif nyanyi2 semua lagu Rentak Harmoni dari adegan 1-18 untuk menghilangkan kantuk *sambil impersonate dengan lebaynya gaya bernyanyi masing2 pemeran*. Di tengah teriakan dan lolongan kami saat bernyanyi, 2 orang tetap saja pules, sebut saja Elung *bukan nama sebenarnya* *bukan juga alat transportasi yang digunakan di film2 silat* *eh, itu elang!*, dan juga bu sutradara.
*salah satu foto favorit hasil jepretan bu sutradara*





















Saat hampir sampai ke Batik Trusmi kami memutuskan untuk jalan terus, gak mampir karna ga ada yang memang niat belanja, dan tujuan pun dilanjutkan ke Empal Gentong H. Apud. Ini tempat recommended banget, sate kambing mudanya, empal gentong, empal asem, semua rasanya nendang! Perut kenyang hati riang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Klapa Manis. Tempat ini asyik banget buat nongkrong sama temen2, bisa liat city light Cirebon, ada live music, dekorasi tempatnya antik, luas juga, makanan dan minumannya enak gak mengecewakan, very recommended lah! Selesai makan2 kami foto2 dengan berbagai gaya dulu di sini, lightingnya oke bro!














Setelah sport jantung sebentar karena ganti sopir, sampe juga kami di hotel. Dan hari itu ditutup dengan makan nasi jamblang deket hotel.

Hari kedua, lokasi yang kami kunjungi berikutnya adalah Gua Sunyaragi. Kami baru cabut dari hotel jam 11-an setelah leyeh2 di hotel pagi harinya, ada yang renang, ngegym, dll. Gua Sunyaragi disebut juga Tamansari Sunyaragi, diambil dari bahasa Sanskerta; Sunya artinya sepi, Ragi artinya raga. Tujuan utama dibuat Tamansari ini adalah untuk tempat meditasi dan istirahat para Sultan dan keluarganya. Banyak ruang2 sempit yang bisa ditelusuri di Gua Sunyaragi ini, dulunya Gua ini merupakan taman air dan dikelilingi oleh sebuah danau, yaitu Danau Jati, tapi sekarang danaunya sudah kering dan dijadikan jalan raya. Bagian luar Gua Sunyaragi ini bermotif batu karang dan awan, cantik sekali.















Serunya mengunjungi situs budaya kaya gini tuh kalau ada pemandu wisata yang bisa ceritain asal usul tempat ini, tapi sayangnya waktu itu tidak ada guide yang nawarin diri, jadilah kami menelusuri tempat ini dengan imajinasi masing2 di kepala kami. Kontur Gua Sunyaragi tidak datar, ada bukit hijau kecil di bagian belakang, membuat kami tidak bosan menelusuri tiap jengkal tanahnya. Sayangnya waktu itu sudah menjelang jam 2 siang dan kami harus segera ke stasiun untuk balik ke Jakarta. Niatnya si mau beli oleh2 dulu sebelum pulang, tapi daripada ketinggalan kereta akhirnya kami lanjut terus langsung ke stasiun. Di saat yang lain asyik terlelap di kereta menuju Jakarta, diri ini masih asyik menikmati dan tak ingin rasanya mengakhiri momen2 yang terasa berjalan begitu lambat ini. 

Perjalanan ini sukses memberikan saya pengalaman baru dalam dunia traveling. Jika dunia ibarat sebuah buku, maka 1 halaman lagi yang selesai kubaca *sambil menanti tuk membaca ratusan atau bahkan ribuan halaman lagi.























*) all pictures were taken by bu cici meiske, bu sutradara, umur