Showing posts with label dance. Show all posts
Showing posts with label dance. Show all posts

Friday, March 1, 2019

Namanya juga hidup yekan

Hidup itu memang selalu penuh liku-liku, ada suka dan ada duka, hmmm, kok jadi kaya lagu. Anyway, minggu lalu saya mengalami kegelisahan yang amat sangat, sulit tidur, sampe akhirnya browsing sana sini gak jelas dan ketemulah artikel yang judulnya "ketika intuisi mengganggu ketenangan". Saya merasa bukan orang yang peka dan memiliki intuisi super, tapi saat itu saya seperti yakin, something bad will happen soon. Dan yak, ternyata benar. Gak sampai seminggu setelah perasaan gak enak itu datang, saya tiba-tiba dapet rejection letter dari Chevening. Tanpa keterangan dan alasan yang jelas kenapa saya gagal di seleksi pertama tersebut. Feeling saya sih karena reference letter yang terhitung lewat dari deadline, tapi sebenarnya gak juga, karena ada perpanjangan deadline untuk referee mengirimkan reference letter. Rejection letter tersebut saya terima 6 jam setelah referee pertama saya (bos di kantor) mengirimkan reference letter. Hmmm, what did you write about me on that letter, Yuta??? Hahaha, tentu kegagalan saya bukan karena reference letter tersebut. Keselnya lagi, pihak Chevening di dalam email itu bilang karena banyaknya applicants, mereka ga bisa kasih personal feedback tentang alasan kita gagal di tahap tersebut. So, sepertinya alasan kegagalan saya di Chevening akan jadi misteri selamanya.

Sedih gak? Pasti lah, apalagi ini kedua kalinya saya gagal dalam mendapatkan beasiswa, dan keduanya gagal di tahap pertama. Tapi, gak seperti biasanya, yang mana saya bakal sedih berlarut2 dan susah move on, kali ini saya ngerasa lebih selow sih. Mungkin karena di lubuk hati saya memang lebih pengen beasiswa yang lain kali ya, yaitu Erasmus Mundus. So, Erasmus bakal jadi harapan terakhir saya, pengumumannya akhir April. I don't know if I can bear another failure, that's why saya makin kencengin doa saya berharap saya bisa berhasil kali ini. Mohon doanya ya bagi siapapun yang baca blog ini.

Fa inna ma'al 'usri yusra. Innama'al 'usri yusra. Setelah kabar kegagalan tersebut, Allah memberi saya penghiburan, saya terpilih jadi Quipperior of The Month. Sebenernya agak malu ya kenapa baru dapet sekarang setelah 2 tahun (?) award ini ada. Alasan saya dapet award ini adalah karena saya led project Tryout, dan karena project ini, untuk pertama kalinya selama 4,5 tahun saya kerja di Quipper, saya pulang dari kantor jam 2 dini hari. Meski hanya berupa sertifikat, lumayan lah ya buat dipajang di CV, dan yak, lembur saya setiap hari terbayar sudah.

Update lainnya adalah, saya bakal ikut misi budaya lagi, kali ini ke Filipina. Awalnya saya nolak karena selain negaranya yang gak menarik menurut saya, biayanya juga mahal dibandingkan misi budaya ke Korea tahun lalu. Eh ternyata biayanya turun 40%, yaudah impulsifnya kumat deh. Katanya ini bakal lebih seru dibanding yang di Korea ya, let's see, saya udah ga sabar sik. Dannnn, misi budaya tersebut bakal berlangsung dari tanggal 25 April - 1 Mei. Yak betul, itu adalah masa-masa pengumuman beasiswa Erasmus saya. Sumpah ya tiap kali keingetan hal tersebut, saya langsung mual, saya gak tau apakah saya bakal tersenyum bersujud penuh syukur karena lolos atau bakal numb, bengong dan broken inside karena gagal lagi. Semoga aja yang pertama, jadi gak merusak mood saat di Filipina nanti. Amiinn..

Sunday, August 5, 2018

Seongju Culture Festival

Kebiasaan saya kalo tiap weekend gak ada kegiatan rutin adalah mulai mikir macem-macem, dan yang paling sering adalah resign resign dan resign, saking bosennya. Setelah berjibaku dengan IELTS tiap weekend di bulan Januari, Februari kebosanan itu melanda kembali, dan di saat puncak kebosanan saya melihat di status whatsap teman saya, sebut saja Anneke, ada postingan tentang Culture Festival, atau lebih familiar disebut misi budaya, di Seougju, Korea. Sifat impulsif saya langsung keluar dan saat itu juga langsung daftar untuk ikut acara itu. Meskipun saya gak suka Korea dan gak pernah ada niat mau kesana, tapi yang saya kejar adalah misi budayanya. Buat komunitas tari sebenernya acara misi budaya lebih familiar saat di bangku kuliah, tapi berhubung saya ga gaul di kampus saat kuliah saya ga pernah tau ada kegiatan2 macem gini. Keinginan kuat saya untuk resign punya pengalaman ikut misi budaya lah yang akhirnya membuat saya begitu impulsif ikutan acara ini sehingga keinginan saya untuk resign jadi teralih.

Kontingen Indonesia mengirim 3 tim, 1 dari Bandung dan 2 dari tim kami yang masing-masing membawakan 1 tarian yaitu Tari Piring dari Minang dan Tari Enjot-Enjotan dari Betawi. Kami punya waktu 2 bulan untuk latihan. Awalnya saya lebih berkeinginan untuk membawakan tari piring karena saya lihat tari betawi terlalu mudah, tapi karena tari betawi butuh berpasangan sedangkan hanya ada 3 pria di tim kami, jadilah ketiganya harus ikut tari betawi. Saat mulai latihan, saya kapok karena menganggap tari betawi mudah, ternyata itu hanya ilusi, susahnya kebangetan karena musiknya sulit dijadikan patokan. Again, karena saya gak punya basic nari, meskipun sudah 2x ikut Indonesia Menari, saat workshop tari betawi yang mana cuma 1 hari full, saya keteteran, malu banget karena gerakan saya kaku, kalah sama ondel-ondel.

Setelah melewati serangkaian latihan, diomelin berkali2 karena gerakannya salah mulu apalagi bagian langkah gatot kaca, lutut lebam karena harus sleding berkali-kali, gerakan selancar yang ga selancar namanya, bagian detail yang selalu kurang (kurang rendah kuda2nya, kurang bungkuk, kurang chemistry, kurang galak, kurang senyum, kurang kompak, kurang ini dan kurang itu banyak lah) -bagian favorit saya adalah silat karena dari awal saya ga pernah salah, hahaha- akhirnya kami pun siap untuk tampil di kancah Internasional memperkenalkan budaya Indonesia. Sebelum tampil di Korea kami ada uji tampil dulu tampil di depan anak-anak asuhan Indonesia Mengajar, mereka tampak terhibur sekali dengan tarian kami.

Nah, acara misi budaya ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Awalnya saya gak niat puasa pas di sana karena musafir, tapi ternyata pas di sana saya kepikiran pemain bola yang muslim aja beberapa tetep puasa meski main bola, ditambah banyak peperangan terjadi di bulan Ramadhan dan mereka bisa tetep jaga puasanya, kenapa saya gak bisa padahal saya cuma joget-joget doank. Akhirnya saya memutuskan tetep puasa sepanjang festival budaya. Tapi tetap ada 1 hari saya gak puasa karena mau cobain juga pengalaman jalan-jalan di siang hari sambil bisa kulineran, hehe.

So, gimana keseruan saat di sana? Let the pictures speak...
Ini adalah saat acara pembukaan, di saat kontingen dari negara-negara lain sedang menyantap hidangan, kami foto2 aja ya kan daripada mati gaya. Di sini kami sengaja untuk kompak mengenakan kebaya bagi yang wanita dan batik bagi yang pria. Maafkan gaya temen-temen yang di lesehan, mereka terobsesi dengan ANTM.

tanpa disengaja, 4 orang dari kami kompak menggunakan warna yang sama, coklat

Festival ini berlangsung selama 5 hari, di hari pertama yaitu acara pembukaan kontingen Indonesia di pecah, ada yang tampil di panti jompo untuk menghibur lansia di sana, ada yang tampil di panggung sore harinya. Tim kami kebagian untuk menghibur ahjumma dan ahjussi di sana. Tari piring dibawakan dengan sangat hati-hati, untungnya ga ada piring yang jatoh dan pecah yang bisa membuat para aki dan nini terkejut dan jantungnya kumat, fyuhhh.

Saat nunggu azan Maghrib di hari pertama nih, kami pake count down segala di dalem bus, semacam norak, hahaha. Oh iya puasa di Korea kemarin jadi pengalaman baru buat saya karena untuk pertama kalinya saya merasakan puasa 16 jam; Subuh di sana jam 3.30 am, buka jam 7.30 pm. Jangan harap bisa denger azan dari Masjid di sana ya, karena masjid yang saya jumpai di Korea hanya ada di Itaewon yang merupakan daerah komunitas muslim.

Ini penampilan dari tim Bandung saat acara pembukaan, nama tariannya Mojang Priangan.
Hari kedua tiba yang merupakan hari pertama kami untuk tampil di panggung. Sambil nunggu bus datang, para wanita masih sibuk tusuk sana sini memastikan kostum dan segala propertinya tidak berguguran saat menari.

Indonesia itu gotong royong. Saya selalu senyum2 sendiri liat foto ini, hehe. Saat menunggu giliran tampil pun mereka masih disibukkan dengan touch up sana-sini. Seyogyanya pria memang tidak pernah dandan, saat misi budaya ini kami diharuskan untuk dandan sendiri, ya jangan salahkan kalau alis akhirnya ada yang seperti sinchan, gunung, ataupun ulet bulu., dan jadilah para wanita sibuk ngebenerin alis pria nya.

Agar penampilan sempurna, latihan lagi sebelum tampil. Entah kenapa saya dan Nadia mukanya jutek banget bak pasangan yang lagi berantem gara2 belanja bulanan kurang.

Foto dulu buat cover kaset "kumpulan tari tradisional nusantara"
Tim Piring yang pertama tampil sebelum tim Enjot. Selama latihan tari piring entah sudah berapa piring yang pecah, makanya tiap kali tim piring tampil saya selalu nervous takut ada piring yang jatuh dan pecah. Alhamdulillah sepanjang festival, tiap kali tim piring tampil tidak ada piring yang pecah, kalau hampir jatuh ada untung bisa dipegang kembali dengan begitu cekatannya sama temen kami, fyuhhh.

Kostum tari piring yang meriah, gerakannya yang lincah, dan musiknya yang kece parahh sukses membuat para tamu undangan terhibur. Suntiangnya didatangkan langsung dari Bukit Tinggi lho. Saya selalu suka dengar musik untuk tari piring ini, mulai dari saluang di bagian awal yang bikin hati sejuk sampai talempong yang bikin musiknya jadi makin energik.

Tibalah tim Enjot tampil, dengan gerakan "misi neng" yang saya karang sendiri istilahnya.

Tari Enjot-Enjotan ini adalah tari kreasinya Entong Sukirman yang menggambarkan tentang keseruan pergaulan muda-mudi Betawi yang gerakannya dipadukan dengan gerakan silat bagi prianya. Gerakannya didominasi oleh gerakan selancar, seperti apa itu gerakan selancar? Saya pun bingung jelasinnya.

Bagi prianya ada gerakan loncat saat wanita kasih gerakan kepret, ada juga gerakan sleding bagi prianya yang bikin kami bersyukur pada pencipta dekker yang bisa menghindari kami dari cidera lutut.


Saat festival ada 2 panggung dan ini adalah saat kami tampil di panggung utama, siap-siap gerakan langkah gatot kaca yang mana saya selalu salah dan gak kompak, hehe.

Lagi-lagi saya bingung kenapa mukanya galak banget ya itu harusnya kan senyum sumringah, atau mungkin karena lagi membelakangi penonton ya dan capek senyum mulu makanya nyolong nunjukkin muka sebenarnya, wew.

Selesai nari, kami kontingen Indonesia foto bareng.

Kalo yang ini anak-anak remaja Korea lagi pada dance, ternyata asik diliat juga
Di hari keempat ada parade, setiap kontingen jalan kaki sejauh 3 km sambil menari di 3 spot, salah satunya spot di atas. Kami pilih tari poco-poco yang mana paling mudah, karena kita ga ada latihan bareng dengan tim Bandung untuk parade ini makanya dicari tari yang paling sederhana yang bisa dilakukan bareng-bareng.

Parade diakhiri di panggung utama dan kami nari lagi di sini disaksikan sama walikota Seongju. Paling seru saat parade adalah kontingen Brazil dengan dandanannya yang luar biasa meriah, tapi bisa dibilang malkostum karena kostum mereka super sexy ditengah dinginnya udara Seongju saat itu. 

Selesai parade, acara dilanjutkan dengan closing ceremony oleh warga lokal Seongju. Yang saya suka festival ini benar-benar diikuti oleh semua umur dari anak-anak kecil sampai orang-orang tua yang masih aktif memainkan alat musik di atas. Ada juga acara tarik tambang yang mana tambangnya besar dan berat sekali, dan itu ditarik-tarik sama kami beserta seluruh warga yang ada di festival saat itu, seru sekali tanpa ada jarak dan kecanggungan satu sama lain.

Acara makin heboh saat ada salah satu band Korea, yang tak kukenal namanya apa, tampil dan semua orang, literally semua orang going crazy joget-jogetan. Bahkan ibu-ibu di foto itu "menggilir" 3 teman saya untuk berjoget bersama dia sepanjang lagu, energinya kuat banget mennn!! Jogetnya energik pula bukan joget selow kaya poco-poco.

Pemandangan cukup unik malam itu karena suasananya seperti konser dengan banyak orang berjoget bersama, ditambah berbagai kostum unik dari berbagai negara. Pernah liat gak orang pake suntiang joget-joget kaya lagi clubbing? Nah kurang lebih seperti itu lah suasananya. We were really having fun that night! Bahkan sampai di bus pun teman-teman masih asik joget-joget sambil nyanyi, ditambah lampu di bus yang dibuat meriah, semacam stress relief.

Sebelum pulang ke negara masing-masing kami sempet foto-foto dengan kontingen Thailand. Selain itu ada juga dari New Zealand dan Rusia yang juga hadir menyemarakkan Seongju Festival.


Nah, klo ini temen saya iseng membandingkan betisnya yang besar dengan betis kontingen Rusia yang super slim. Acara Seongju Festival di akhiri dengan city tour di hari terakhir dan setelah itu kamipun balik ke Seoul dan bersiap pulang ke Indonesia. Tapi karena saya extend jadi saya tetap di Seoul selama 3 hari berikutnya.

Meskipun misi budaya selesai, silaturahmi tetap terjalin donk. Ini adalah saat halal bihalal setelah lebaran kemarin. Misi budaya ini benar-benar memberikan pengalaman yang gak akan pernah saya lupakan. Saya selalu bangga dengan budaya Indonesia dan selalu bangga juga menceritakan tentang keunikan Indonesia dengan berbagai keragaman budayanya kepada orang-orang luar negeri yang saya jumpai ketika trip. I Love Indonesia 💗

Oiya kalau penasaran dengan videonya bisa diliat disini, kalau mau liat saya ada di tim Enjot mulai dari menit 11.10, please enjoy the show!

Saturday, February 10, 2018

Temuan Baru tentang Diri Sendiri

Menyambung tulisan di postingan ini tepatnya di poin 3, saya akan cerita lebih banyak tentang fakta baru yang saya baru temukan di 3 tahun terakhir. Sebenarnya banyak hal yang baru saya sadari tentang diri saya, sepertinya momen mengenal diri sendiri berawal sejak ikut Indonesia Mengajar. Di pelatihan selama 2 bulan itu kita dituntut untuk mengenal diri kita sendiri dengan segala potensi dan segala macam trauma dan permasalahannya dan tentu menyelesaikannya. Intinya adalah kita harus selesai dengan diri kita sendiri dulu supaya kita bisa total dalam melakukan tugas kita di daerah penempatan.

Nah, salah satu fakta baru yang saya temukan tersebut dan akan saya bahas lebih detail di sini adalah tentang kesukaan saya terhadap seni, baik itu seni suara, seni sandiwara, dan tentu saja seni tari. Seperti yang saya sebut di postingan sebelumnya bahwa masa sekolah sampai kuliah saya lebih terpaku ke organisasi dan aktualisasi dalam seni pun jadi tak tersalurkan. 

Pertama kali saya memberanikan diri tampil di depan umum untuk nari adalah saat acara Forum Indonesia Muda, tepatnya saat malam pentas seni. Disitu saya membawakan tari piring, tentu yang basic ya, tapi tentu pake piring beneran bukan piring kertas buat acara ulang tahun. Saya grogi, sebelum tampil tangan sempet basah dan khawatir banget piringnya jatuh dan pecah dan saya harus bayar ganti rugi. Alhamdulillah semua berjalan lancar, dan setelah itu saya merasa "kok seru ya? kok ternyata saya cepet hafal gerakan? apa ini bakat ya?". Jadilah sejak itu saya ikutan FIM Art dan sempet nari indang di UNJ, dan belajar sedikit tari Saman meski belom sempet ditampilkan.

Saat pelatihan Indonesia Mengajar saya sempet diajarin tari Saman, dan kami tampil menghibur masyarakat di Jatiluhur saat acara Maulid Nabi. Di Papua, saya juga sempet mengajarkan tari Saman tersebut ke siswa-siswa saya dan mereka tampil mengagumkan di kecmatan saat pentas seni setelah Ujian Nasional. Pulang dari Papua saya pun makin ketagihan, dan makin memberanikan diri ikut seni yang lain, jadilah saya ikut Drama Musikal Rentak Harmoni. Main di drama musikal dan tampil di depan ribuan orang di Taman Ismail Marzuki? Mennnn, ini sesuatu yang bener2 gak pernah melintas di pikiran saya sebelumnya, and i did it and i loved it!

Sebenernya yang memotivasi saya ikut berbagai kegiatan tersebut adalah kebosanan terhadap rutinitas kantor dan rasa penasaran saya terhadap hal-hal yang baru. Pengalaman berkesan berikutnya adalah saat ikut Indonesia Menari 2016, ini videonya:
Saya ingat sekali saya sedang di puncak kebosanan sampe mikir mau resign saat itu, dan kegiatan ini sukses jadi pengalih dan membuat saya sadar bahwa saya emang gak bisa diem aja saat weekend, harus ada kegiatan supaya saya gak bosen. Karena Indonesia Menari ini latihannya setiap weekend jadilah pas.

Setelah Indonesia Menari, saya diajak untuk membawakan tari Saman di nikahan temen kami, yang kebetulan jadi pasangan menari saya saat ikut Indonesia Menari, tentu saya mengiyakan. Selama latihan saya taunya ya saya akan tampil di nikahan temen, udah itu aja, saya bahkan gatau pasangannya siapa. Tapi pas hari H dan udah sampai di gedung, kok ya karangan bunganya banyak banget, saya tanyalah temen saya "Suaminya Nadia anak pejabat ya?", temen saya dengan datar jawab "lah kan suaminya anak Aher, gubernur Jabar". "Mati gua", batin saya. Mulai panik karena bakal banyak pejabat penting yang datang, dan bener, bahkan ada Jokowi, JK, SBY, eyang Habibie, Bima Arya, dll. Ini video saat kami tampil:
Overall, pertunjukkannya berjalan lancar, ada kesalahan2 gerakan kecil tapi masih bisa ditolerir lah, hahaha.

Dan ini yang terbaru, November tahun 2017 yang lalu saya ikut lagi Indonesia Menari, kali ini lebih eksentrik kostumnya, saya suka banget! Kostum kami ala Jawa campur modern, dan mukanya Joker, jadilah seperti ini:
Nama grup kami aslinya Abiwara, tapi karna gerakannya ambisius dengan banyak formasi jadilah namanya Ambiwara. Meski kelompok saya gak menang di tahun 2017 ini tapi yang penting happy lah karna selain teman saya di kelompok lain berhasil juara 2 dan juara favorit, saya juga ngerasa bebas banget berekspresi karna ga ada yang kenal saya dengan muka kaya gitu. Dan ini videonya:

Setelah kegiatan ini saya belum ada kegiatan lain yang berhubungan dengan seni, jadilah saya lebih sering menghabiskan waktu browsing sana-sini di youtube tentang tarian dan ini adalah video favorit saya tentang tarian dari Georgia yang atraktif banget dengan segala gerakan ekstrimnya:
 "Insane!", itu reaksi saya pertama kali liat tarian ini. Gak kebayang latiannya kaya apa, seru sekali diliat tapi pasti berat banget latiannya.

Oh, selain tari-tarian saya juga suka banget tentunya dengan seni musik, dan ada 3 favorit saya yang selalu saya dengar tiap malam di beberapa minggu terakhir;
1. Angelina Jordan
Ini anak sepertinya reinkarnasi dari penyanyi jazz yang udah pernah meninggal, Amy Winehouse? Saya ga terlalu ngerti genre musik, apalagi jazz, tapi pertama kali denger Angelina nyanyi saya langsung tergila-gila. Dia juga unik, setiap tampil dia selalu nyeker alias gak pake alas kaki. Itu karena dia pernah bertemu seorang anak tunawisma di salah 1 negara berkembang, dan Angelina kasih sepatunya ke anak itu. Jadi semacam campaign gitu aksinya di atas panggung, sebagai solidaritas kepada anak-anak di belahan dunia lainnya yang bahkan untuk beli sepatu saja gak mampu. Masih kecil tapi hati dan pemikirannya udah dewasa banget, reinkarnasi?

2. Mohamed Tarek
Lagu "Ramadan" karya Maher Zein adalah salah 1 lagu favorit saya sepanjang masa, begitu syahdu dan bener2 bikin rindu dengan bulan Ramadhan. Dan, saya baru aja menemukan video ini, Mohamed Tarek mengcover lagu Maher Zein dengan suaranya yang luar biasa bikin merinding, jadilah ini lagu "candu" baru bagi saya.

3. Atouna el Toufouli

Lagu ini tentang anak-anak korban perang di Syria yang berusaha menyuarakan suaranya kepada dunia bahwa mereka hanya anak-anak, yang juga ingin bermain dan melewatkan masa kanak-kanaknya dengan damai. Dengarkan dan ceritakan sendiri gimana perasaanmu setelah denger lagu ini. I'm speechless.

Begitulah, postingan ini agak random di bagian akhir sepertinya, hahaha.

Tuesday, February 2, 2016

Kata Mereka Tentang Rentak Harmoni


Dari kemarin ingin sekali nulis tentang Rentak Harmoni (RH) tapi apa daya diri ini masih terlalu emosional dan baper jadinya malah stuck bingung mau mulai dari mana, semua perasaan nyampur jadi satu persis kaya gado-gado. Jadilah iseng-iseng nanya temen2 yang nonton RH kemarin, tentang kesan dan hal positif apa yang mereka dapat setelah nonton RH. Mereka ini adalah orang yang tidak ada hubungannya dengan IM sama sekali, jadi pendapatnya saya rasa cukup objektif, sepenuhnya dari kacamata penonton.

Pertama dari nyokap dulu deh, beliau seneng banget karna ini pertama kali nonton drama musikal, dan ibuku baru tau anaknya bisa nyanyi *thanks to tim musik dan seluruh teman2 yang udah bantu sepenuh hati dan sabar melatih saya bernyanyi dengan benar*, tapi kemudian ibu mengeluh kenapa saya kerjanya marah-marah mulu di situ, hehehe. Ibu paling suka pas babak kedua setelah istirahat, karena babak pertama katanya lambat banget alurnya dan monoton. Favorit ibu sudah pasti Nara dan Sigra, suaranya bagus banget katanya, perempuannya pinter banget komunikasinya. Overall emosi nontonnya lengkap, ada sedih, tegang, lucu, tapi kebanyakan nari katanya *semacam ga rela liat anak lakinya joget2*



Berikutnya adalah pendapat teman2 kantor saya yang dengan terpaksa tanpa paksaan sama sekali nonton RH kemarin. Sebelumnya mau special thanks dulu ah buat bu bos mba Niar yang udah beli 3 tiket VVIP, dan bukan cuma itu tapi juga dukung saya banget, sampe belain saya untuk stay di Jakarta saat saya diminta tugas keluar kota selama 1 minggu di minggu terakhir latihan, thanks ya mbake, it means a lot :)

Supaya gak terlalu panjang saya rangkum aja pendapat mereka. Apa sih yang kalian dapet setelah nonton RH?
Andreas:
  • Perubahan yang lebih baik itu bagus, tapi jangan sampai mengorbankan semua kebiasaan baik yang harusnya dijaga atau ditanamkan turun temurun. Kita harus siap menghadapi perubahan yang terjadi, caranya dengan memperkaya pengetahuan yang kita punya
  • Persahabatan itu harus dijaga, karena persahabatan yang positif membantu kita untuk mengingatkan kalau kita salah jalan
  • Untuk melakukan hal positif itu dimulai dari hal kecil, ga perlu diliat orang, yang penting kita percaya yang kita lakukan itu benar.
  • Tetap hormati orang tua

Namira: Kesan gua tentang RH salut sama relawannya, disaat semua orang berjuang untuk diri masing-masing mereka masih meluangkan waktu berkegiatan positif untuk tujuan positif. Can't imagine my peer needs to keep practicing dialogue, choreography, and lyric as well while I know the workload at our office is superb, lol!

Gua paling suka kakek Smong, some of his quote made me shed my tears, ahahahah. We need to be good, do good, be positive no matter what how others does. "Tidak pernah ada yang selalu baik maupun selalu buruk. Kadang-kadang kita perlu bersentuhan dengan yang lebih baik untuk memahami kekurangan kita tapi kadang-kadang kita juga perlu bersentuhan dengan yang lebih buruk untuk mensyukuri kebaikan yang Tuhan anugerahkan pada kita. Kalian tahu Rwa Bhineda?" - Kakek Smong - Tapi endingnya cepet banget, gak diliatin prosesnya tau2 udah happy ending.

Niken: Suka sama lagu2nya, sama dialognya yang mengalir ringan, ditambah gimmick dan celetukan yang khas.Kalau soal jalan cerita honestly bisa kebaca dari awal. Durasinya juga kepanjangan, karna bawa bocah jadi agak waswas menjelang akhir karna udah malem banget. Gua suka spirit kalian as volunteers, totalitasnya, kebersamaannya, chemistry-nya. Suka banget pas all casts tampil bareng di akhir acara. Gw suka liat wajah2 yang ceria, bersemangat dan ga dibuat2. I really enjoyed the show. Gw sebagai penonton ngerasain energi positif kalian, dan menurut gua itu kesan yang paling penting.

Mba Inuk: Bagus banget, high quality! Aku pernah nonton Wicked di London, sama senengnya :). Aku paling ketawa pas segmen Sigra sama Lena dan keluarganya. Ayah Nara galak, aku takutt. Paling suka dialog Nara dan Sigra, "Kalau kamu bingung, tandanya kamu berpikir." "Sesuatu yang baik itu tidak akan membuat kamu resah." Karya anak2 muda Indonesia bagus2, satu lagi, pendidikan tinggi itu penting, tapi jangan sampai kehilangan nurani.


Mega: Suka musiknya! Dari ide ceritanya juga banyak pesan moral, yang bagian menjaga tradisi tapi tetap membuat maju itu. Pesannya disampaikan dengan simpel ya karna dimasukkin dialog2 kekinian juga. Cara menyampaikannya sih yang oke banget, gak bikin bosen, bisa ngikutin per adegan sampe akhir walaupun banyak adegannya. Tapi kekurangannya abis kegiatan ini selesai yaudah selesai gitu aja. Mungkin harus ada program lanjutannya kali ya, biar jagain momennya. (Ide bagus nih, seharusnya di buku acara dikasih juga informasi berbagai wadah positif yang bisa diikuti oleh para audiens yang berniat berkontribusi lebih melalui kerumunan positif).


Mba Niar: Banyak banget pelajaran yang kami (doi & suaminya) dapat, kami sangat berterima kasih sekali diundang (meski bayar), It worth more than what we've paid. Petuah2 dari kakek Smong jadi bikin hidup lebih semangat, bahwasanya di dunia yang penuh dengan segala masalah dan kegaduhan ini masih banyak kesederhanaan dan hal2 yang baik yang bisa membuat manusia itu bahagia dengan apa yang dia miliki, dan kami jadi malu dan bersyukur sama Tuhan.

Kalau aku sendiri yang sangat menyentuh adalah pada saat Ayah Nara menyuruh Nara pergi menuntut ilmu keluar dari kampungnya. Seluruh kejadian itu terjadi in real life gue, and my dad said exactly the same. Di adegan ini gw nangis seperti anak kecil, karena gw merasa gw belum berterima kasih atas pengorbanan orang tua gw saat itu, sementara saat ini gw udah menikmati hasil kerja keras dan keringat serta tetes air mata mereka saat melepas anak perempuan satu2nya pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu.

Di sini gua juga belajar jadi pemimpin yang bijaksana, bahwa pemimpin yang baik dan berhasil itu adalah yang tau apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya/bukan apa yang mereka inginkan. Serta sesuatu yang baik itu tidak harus diubah/diganti untuk menjadi maju dan berkembang. Paling suka dialog kakek Smong yang ini: “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.” Kakek percaya kau yakin benar dengan tujuan hidupmu. Jadi, ke manapun langkahmu saat ini harus menuju, kau pasti akan terus melangkah ke tujuan yang sudah kau tetapkan. Kakek percaya suatu hari nanti kau akan melakukan satu hal yang dahsyat karena tujuanmu baik. Bersemangatlah!"

Itulah cuplikan testimonial dari para penonton RH, dari kesemua testimonial tersebut bisa disimpulkan bahwa pesan yang ingin kami sampaikan tersampaikan dengan sangat baik. Alhamdulillah doanya terkabul sudah. Semoga semakin banyak orang yang terinspirasi untuk berbuat lebih bagi ibu pertiwi. Salam Warita Dikara :)

Thursday, December 24, 2015

Hari pertunjukkan semakin dekat, latihan semakin intensif. Bertemu 2x setiap minggu menjadi sangat adiktif dan menjadi sumber kebahagiaan. Lelah tak terasa, yang dirasakan hanya rasa senang, bahagia, dan selalu positif. Senang rasanya bisa bergabung di Rentak Harmoni. Setelah pertunjukkan berlalu bakal seperti apa ya? Pasti susah move on, gak bisa kumpul lagi, sibuk masing-masing, ahhhh, boleh kah waktu berjalan lambat saja?

Saturday, December 5, 2015

Rentak Harmoni

"Hobi saya traveling, kumpul dengan teman, dan mencoba hal-hal baru. Dan di sinilah saya saat ini, menjalani hobi saya untuk mencoba hal-hal baru"

Itu adalah sedikit cuplikan saat saya mengikuti Audisi Rentak Harmoni pada Sabtu, 4 April 2015. Apaan tuh Rentak Harmoni? Rentak Harmoni ini adalah bentuk kolaborasi dari alumni Pengajar Muda berbagai angkatan dan para relawan yang luar biasa dalam sebuah pertunjukkan seni drama musikal yang bertema pendidikan. Kegiatan ini dibuat untuk masyarakat agar kita semua sadar bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan semua orang bisa berkontribusi untuk memperbaiki pendidikan kita, sekecil apapun bentuk kontribusi tersebut. Adapun keuntungan dari pertunjukkan ini nantinya akan diberikan ke #IuranPublik yang dikelola oleh Indonesia Mengajar.

Ini adalah kali pertama saya mencoba mengaktualisasi diri dan menggali potensi saya di bidang seni, khususnya seni peran. Sebagai orang pemalu, dari kecil saya tidak pernah mau tampil apalagi di depan panggung yang disaksikan banyak orang. Tapi sejak saya selesai kuliah, dimulai dari saat saya bergabung di FIM kepercayaan diri saya mulai meningkat, dan rasa penasaran serta keinginan untuk mencoba hal2 baru menjadi semakin besar. Jadilah saya ikut salah satu kegiatan FIM yaitu FIM ART, dan saat itu lah pertama kali saya menari, iya menari, bersama sahabat kentel saya Dhay memainkan tari indang dari Sumatera Barat yang disaksikan oleh mahasiswa UNJ.

Rasa tidak tau malu percaya diri saya semakin tumbuh lagi saat saya ikut Indonesia Mengajar, sekolah kepemimpinan yang begitu berpengaruh dalam pembentukan karakter dan kepribadian saya saat ini. Sebagai guru di sebuah desa di Papua saya diharuskan bisa segalanya, karena kata Pak Anies di IM kita harus bisa melakukan apa yang tadinya tidak kita bisa, di sinilah kita akan lebih mengenal diri kita dengan segala potensi tersembunyi yang ada di dalam diri kita. Jadilah saya yang amatir dalam hal seni tari ini malah mengajarkan siswa-siswi saya yang masih SD itu tari Saman dari Aceh. Anak Papua nari Aceh, gimana ceritanya tuh? Hehehe

Kok jadi panjang postingannya -_-
Tentang IM mudah2an saya tidak cukup malas untuk membuat postingan terpisah nantinya.

Lanjut, si amatir di seni tari ini akhirnya mencoba level yang lebih tinggi, drama musikal yang mengkombinasikan seni peran, tari, dan suara sekaligus! Bahkan saya belum pernah nyanyi di depan orang banyak seumur hidup! Tapi ternyata menyanyi tidak lebih sulit daripada peran. Saya merasa kesulitan sekali untuk mendalami karakter saya, bahkan sampai sekarang. Kalau menghafal naskah sih tidak terlalu sulit bagi saya, tapi membawakannya ini yang saya belum dapat kuncinya. Mudah-mudahan pada akhirnya nanti bisa memuaskan saya dan orang yang menonton. 

Friday, March 6, 2015

(Sedikit) Berbagi Memori

Banyak sekali kenangan, baik yang terdokumentasikan ataupun tidak, selama bertugas sebagai guru SD selama 1 tahun di Fakfak, Papua Barat. Itu adalah satu tahun terbaik dalam hidup saya. Belum banyak yang bisa saya berikan selama di sana, saya lebih banyak belajar dan terinspirasi dari beragam karakter dan individu yang saya temui di sana. Pada postingan kali ini saya bukan ingin membahas tentang pelajaran dan inspirasi yang saya dapatkan, akan ada pembahasan khusus tentang itu. Kali ini saya akan berbagi sedikit saja hasil dokumentasi saya dalam bentuk video. Video ini ada yang berupa kumpulan foto yang kebanyakan diambil oleh saya sendiri, murid saya, dan ada temen dari kru trans 7 juga, check this out:


Kalau video di atas adalah tentang keindahan alam Papua khususnya Fakfak, di video berikutnya adalah video dari program Si Bolang Trans 7. Semua anak-anak di sini adalah murid-murid saya, yang jadi bolang namanya Samsul. Samsul pintar sekali acting, waktu lagi casting kecil2an untuk nyari pemeran Si Bolang, Samsul sukses membuat kita terbahak2 karena peran2 yang diminta oleh kru Trans 7 untuk diperagakan Samsul. Di sini pun terlihat keindahan alam timur Indonesia, khususnya kampung Tarak dengan Batu Lobang sebagai primadonanya, check this out!


Video berikutnya adalah video favorit saya, perjuangan anak-anak Papua belajar tari Saman. Perjuangannya luar biasa, dan banyak sekali pelajaran yang bisa diajarkan di dalam prosesnya. Kesabaran, kedisiplinan, kekompakkan, kerja sama, semua berpadu jadi satu. Ini adalah dokumentasi saat Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Distrik Karas, setelah Ujian Nasional tahun 2014. Dengan tema "Setiap Anak Adalah Bintang" siswa-siswi SD Negeri Tarak sukses menampilkan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh masyarakat di sana, tarian dari daerah di ujung barat Indonesia, tarian dari saudara sebangsa se-tanah air, Aceh. Check this out:


Meski suara penyanyinya sangat mengganggu, dengan segala keterbatasan, setidaknya kami sudah berusaha menampilkan yang terbaik dan semua masyarakat yang ada di sana saat itu sangat terhibur. Semakin bersinar yaa bintang-bintang kesayangan pak guru :)