Showing posts with label journey. Show all posts
Showing posts with label journey. Show all posts

Tuesday, January 23, 2018

New Year, New Spirit?

It's been a year guys! well, almost actually. Hampir setahun gak ngeblog, setiap kali pengen ngeblog selalu teringat utang postingan tentang trip ke Turki, akhirnya ga jadi jadi. Sekarang biar rajin ngepost lagi, saya pun melunasi postingan tentang Turki. Well, belum lunas sepenuhnya si, tapi setidaknya ada 3 postingan baru lah dari terakhir catatan saya saat di Cappadocia.

Okay, ada kabar apa nih setahun gak udpate di sini?

  1. Saya masih di Quipper, okay tahun ini akan jadi tahun keempat saya kerja di sini. Kalau ditanya bosen gak? Bohong klo bilang ga ada bosennya, bosan pasti ada tapi karna selalu ada hal baru yang bisa dikerjakan di Quipper jadi saya bisa bilang kalau saya belum bosan-sampe-ingin-resign selama kerja di sini. Tahun baru diawali dengan berita ga menyenangkan, 6 orang resign, pfftt, sedih si, tapi ya semoga mereka dapat kesuksesan di tempat barunya.
  2. No sosmed. Wow, saya ga nyangka bakal hiatus dari dunia sosmed selama ini. Udah hampir setahun saya hiatus dari Instagram dan Facebook. Baru2 ini saya terpaksa berbalas komen lagi di Facebook karna ada guru saya yang di Papua post komentar di foto saya, ga dibales ya ga enak kan, jadilah tu foto saya malah tersebar kemana2 sampe ke grup whatsap kantor 😔
  3. Saya menemukan fakta baru tentang diri saya sendiri, ternyata saya suka seni. Kesibukan saat kuliah membuat saya gak total dalam aktualisasi diri, jadilah pas kerja saya baru ada waktu untuk eksplorasi tentang diri saya. Saya memberanikan diri ikutan drama musikal (klo ini 2 tahun lalu), dan dari situ ternyata saya baru sadar klo saya suka tari khususnya tari tradisional. Tercatat udah 2x ikut Indonesia Menari, dan 1x nari di nikahan orang, tepatnya nikahan anak Gubernur Jabar kang Aher, pertama kali nari di nikahan orang diliatin para pejabat pula, sebut saja presiden.
  4. Kursus IELTS, hmm, dalam rangka persiapan cari S2 dan beasiswa ke Eropa, saya mulai take action dengan ikut kursus IELTS di IALF. Sejujurnya saya menyesal, bukan bermaksud menjelekkan tapi memang metode kursusnya gak sesuai dengan ekspektasi saya. Bagi sebagian orang mungkin metode ini efektif, tapi yaah, tiap orang punya ekspektasi yang beda kan. Jadi lah setiap ada temen mau kursus di IALF saya ajak ngobrol, mending hayok kita belajar bareng daripada keluar uang sampe 5 jt untuk kursus 2 bulan.
  5. Depresi. Akhirnya saya tau rasanya depresi, gaenak banget men! Hmm, ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, tapi itu terlalu privasi untuk dibagi. Sekitar 1 bulan saya berada di titik terendah dalam hidup, gelisah, hati rasanya kosong, sedikit2 narik nafas panjang, bingung, mikir yang tidak2, dan banyak perasaan ga jelas lainnya yang ga bisa dijelaskan. Saya ga terlalu ingat kenapa akhirnya saya bisa lalui itu semua, mungkin ya karna masalah waktu aja. Jadi, buat orang2 yang lagi depresi, sabar aja, semua itu bakal berlalu kok, tetap sabar, sabar, dan sabar.
Baik, segitu dulu aja updatenya, nanti dilanjut lagi. Semoga kedepannya bisa bikin postingan lain yang tersisa tentang Turki. Ada apa aja? Masih ada catatan saat di Selcuk, Sirince, naik balon udara di Cappadocia, Bursa, Edirne, dan Istanbul! Hmmm, masih banyak pemirsa 😅

Saturday, March 4, 2017

Fakfak My Second Home; January 2014

Oke, berkaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang ketamakan manusia yang suka foto2 tapi kemudian menjadi sampah di hardisk, maka saya lanjutkan kegiatan saya mengabadikan foto2 tersebut di sini beserta cerita di dalamnya. Sebelum postingan ini, saya posting foto2 jadul dari jaman SMA, baru 1 folder kemudian malas, hahaha. Kali ini karna ada hutang sama mama Ihsan untuk posting all about Fakfak, makanya saya buka2 lagi folder foto selama saya di Fakfak, yang dibagi berdasarkan bulan. Kali ini saya mau posting foto2 dari kegiatan saya di bulan Januari, sulit banget untuk pilih hanya 1 foto dari setiap foldernya yang kadang ada ratusan foto. Inilah foto2 terpilihnya, cekidot!



1.      Mandi Safar, salah satu budaya yang masih dijalankan setiap tahunnya mengikuti kalender Islam, kalau gak salah bulan Rabiul Awal. Di sini tradisi masyarakatnya mereka bikin tenda di lapangan hari sebelumnya. Keesokan hari, sebelum matahari terbit, seluruh masyarakat 1 kampung berduyun2 ke tenda yang mereka bikin kemudian masak makanan untuk dimakan 1 kampung. Mereke menggelar kain panjang di jalan setapak, kemudian menyajikan makanan yang sudah dimasak. Seperti biasa, ada hidangan wajib yaitu kopi, teh, pisang goreng, lontar (ini enak banget!), molen, dan tentu kore! Kore, hahaha, klo inget pertama kali saya makan kore suka ketawa sendiri. Dibuat dari kacang kenari yang ditumbuk kemudian digoreng, bentuknya seperti pasir, dimakan bersama dengan pisang, dalam hati saya waktu itu “oke, makan pisang pake pasir, hajar jri!”, itu sebelum saya tau bahan asli kore apa. Rasanya? Awalnya saya ga suka, seperti ngunyah pasir, tapi setelah beberapa kali makan malah saya sering nanya kalau lagi ada acara adat, “mama ada kore kah?”. Setelah makan besar 1 kampung, kami main air! Jadi setiap orang harus nyebur ke laut, trus supaya seru kita rame2 kejar2an satu sama lain untuk saling melempar orang lain ke laut. Tua, muda, laki, perempuan, semua kejar2an, cari orang untuk dilempar ke laut, bahkan bapak imam pun yang usianya udah sepuh dilempar ke laut, it was extremely fun! Setelah main air, yang laki2 main bole, yang perempuan main voli. Sore baru pada balik ke rumah masing-masing.

Anak-anak usia SD di sini beda banget dengan anak2 di kota. Benda tajam seperti parang ibarat pedang2an bagi anak2 kota, bedanya yang ini beneran. Mereka sangat terampil menggunakan parang. Keterampilan ini pun saya manfaatkan dengan memfasilitasi ide anak2 untuk bikin parapara di pinggir laut, semacam bale tempat duduk atau tidur2an, intinya tempat bersantai lah. 


Hari sabtu adalah harinya ekstrakurikuler, jadilah saat itu anak2 kerja bakti ada yang cari bambu, bersihin kelas, potong rumput di lapangan pakai mesin, dan membuat parapara. Semua dilakukan sama anak SD, gimana saya gak bangga sama mereka coba. Selesai parapara dibuat, ini pun jadi tempat favorit saya bersantai bersama anak2 sambil ditemani bunyi ombak dan angin laut yang gak pernah berhenti menyapa.

Foto ini diambil dari folder “goyang duyung”, hahaha, nama yang aneh. Jadi ini adalah saat kampung dihebohkan oleh warga yang lagi mancing tapi dapetnya ikan duyung. Kocaknya, saat kejadian ini di TV lagi rame banget sinetron putri duyung. Ternyata kepercayaan disini mengatakan kalau ikan duyung dulunya adalah manusia etnis tiongkok yang tenggelam di laut kemudian berubah wujud jadi ikan duyung, makanya sebelum dimakan, ada ritual adatnya dulu seperti foto di atas. Ikan duyung siripnya dilipat kemudian ditusuk kayu, telinga dan hidungnya ditusuk kayu, kemudian dibacain doa dan sambil menusuk kayu2 kecil tersebut tetua adat bicara sesuatu menggunakan bahasa kampung tarak sini. Setelah itu baru dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat di kampung. 


Sekampung pada ngumpul di 1 tempat ini buat liat ikan duyung, dan kocaknya karna kebanyakan orang diri di rumah kayu yang sebelah kiri, tiangnya pun rubuh dan orang2 pada jatuh, tapi untung gak ada yang luka yang ada malah pada ketawa2 rame banget, hahaha. Oiya, Menangkap ikan duyung ini bukan kegiatan rutin kok, setahun sekali pun tidak, kalau kebetulan ada yang ga sengaja kepancing aja baru dibawa ke darat dan dimakan. Saya sempet makan dagingnya yang sudah diolah, rasanya mirip2 daging rusa menurut saya. Tidak semua orang di kampung mau makan daging duyung karna kepercayaan orang sini yaitu dulunya duyung adalah manusia, unik.


Musim barat, momok buat warga kampung Tarak karena ombak laut menjadi ganas, angin kencang, dan hujan terus, sehingga masyarakat jadi sulit ke kota, begitu juga sebaliknya yang dari kota sulit kalau mau balik ke kampung. Tapi buat saya musim ombak seperti ini malah saat yang tepat buat main ombak di laut, hahaha *setelah itu diomelin warga*. Foto ini diambil di suatu sore saat saya asyik main ombak dengan anak-anak murid saya. Saat para pemuda asik main bola, saya malah kaya anak kecil yang asik main ombak. Lagi2 ada kearifan lokal di sini, jadi kata anak2 kalau mau ombaknya semakin besar kita harus melempar batu ke arah ombak datang, jadilah saat itu anak2 melempar batu ke lautan supaya ombaknya makin besar.


Maulud, di Distrik Karas, ritual keagamaan yang 1 ini justru lebih rame dari Idul Fitri, kenapa? Acara Maulud ini digelar di setiap kampung, ada 6 kampung di 1 distrik Karas, di acara Maulud ini seluruh tokoh agama dan anak2 muda dari 6 kampung berkumpul di 1 kampung yang sedang bikin acara Maulud. Jadi tiap kampung bergantian bikin Maulud. Nanti 1 kampung ditunjuk jadi penutup, nah penutupnya ini lah yang bakal super rame. Acara intinya di sini adalah baca doa, shalawat sambil main marawis, makan besar, setelah itu anak2 muda main marawis keliling kampung sambil shalawatan, dan mintain beras ke rumah-rumah. Sumpah ini acara seru banget, meriah! Setiap rumah sibuk membuat makanan, bahkan saya ikutan bikin kue waktu itu, bikin onde2 susu sama puding di rumah mama tua. Damn! I really miss them now :(


Ini adalah iring2an ke masjid sebelum shalawatan dan baca doa. Beberapa tokoh adat membawa Al Qur’an yang udah tua banget, buku doa dan shalawatan, air putih, dan kemenyan. Kemenyan ini adalah sesuatu yang gak bisa dilepas dari segala ritual keagamaan. Jadi sambil baca doa nanti bapak imam bakar kemenyan, awalnya saya agak risih karena baunya tapi lama2 ya biasa aja sih, karna tiap acara pasti saya duduknya ditempatin di sebelah bapak imam, jadilah baunya santer banget.


 Foto ini diambil saat perpisahan dengan ibu kepala sekolah, karena beliau dipindahtugaskan ke kampung yang lain. Meski banyak drama yang terjadi sebelumnya, tetep yang namanya perpisahan itu menyedihkan sih, anak2 yang innocent tetep merasa kehilangan sosok beliau. Saya pun berkaca2 terus sepanjang pengambilan gambar. Setidaknya beliau sempet ke Jakarta untuk antar siswanya yang lomba menulis waktu itu, jadi ada kenang2an yang berharga lah atas jasa2nya selama ini.


 Nemo Family! Waktu saya ke Fakfak saya sengaja beli kamera underwater saat tau penempatan saya di pulau, sayang donk kalau keindahan bawah laut pulau ini gak diabadikan. Sebagai bentuk kepercayaan saya juga sering kasih kamera saya ke anak murid buat mereka berkreasi di bidang fotografi. Ternyata, hasil foto siswa saya Moksen, bagus banget! Ini adalah hasil jepretannya saat kami molo2 alias menyelam liat karang di depan pulau. Yep, dulu saya kalau mau snorkeling cukup melakukannya di depan pulau kami, gak perlu jauh2, what a heaven!


....and I catched this sunrise from my heaven, my second home, Tarak....

Friday, February 26, 2016

Short Escape to Cirebon

















Bagi saya, sering kali keseruan liburan itu bukan karena tempat tujuannya, tapi karena teman perjalanannya. Kenapa? Karena kalau fokus hanya di tujuannya alias tempatnya, dan ternyata tempatnya tidak sesuai ekspektasi maka hancurlah sudah mood ini. Sudah tempatnya gak sesuai ekspektasi, temen perjalanan ikut ngedumel juga dan malah nyalahin yang rekomendasikan tempat, yaudah BYE! Saya penganut setia paham Trinity Naked Traveler, “it’s not about the destination but the journey”, maka inilah yang selalu saya gembor2kan tiap kali saya mengelola sebuah trip bersama teman2 saya.

“The journey”, inilah kenapa saya lebih milih “pergi sama siapa” dibandingkan “pergi ke mana”, karena ketika teman perjalanannya udah asyik, easy going, gak manja, mau susah, gak akan masalah tuh kalau tempatnya akhirnya ga sesuai ekspektasi, atau kalau tiba2 di perjalanan ada kejadian tak terduga, dan kejadian2 gak mengenakkan lainnya, seluruh kejadian selama perjalanan akan dinikmatin dan dibuat asyik bareng2. Ini juga lah alasannya akhirnya saya memutuskan ikut trip ke Cirebon, tempat yang awalnya menurut saya biasa dan gak seru2 banget, tapi karena perginya sama temen yang (kayanya) seru makanya saya mengiyakan ajakan tersebut.













Lima anak alay kota mencari penghiburan saat weekend ditengah kepenatan bekerja. Jumat sore kami kumpul di Gambir, dengan tiket kereta seharga 135ribu kami siap lari sejenak dari ibu kota. Kereta malam pun melaju dengan nada jugijagijuk ala elvi sukaesih. Saat berangkat kami duduk berbeda gerbong, 2 teman kami asyik tertidur di perjalanan sedangkan saya asyik bercerita dengan bu sutradara. Oiya, saya belum bilang, 5 orang ini adalah anak2 Rentak Harmoni yang-gagal-move-on.

Sampai di Cirebon kami langsung cari nasi jamblang, konon nasi jamblang ini terkenal sekali di Cirebon. Bentuknya seperti nasi kucing, bedanya nasinya disajikan menggunakan daun jamblang (daun jati) sebagai pembungkusnya. Nasi jamblang Mang Dul, di sinilah tempat kami mengisi perut yang sengaja tidak diisi dari Jakarta, hasilnya? Ini adalah nasi jamblang terenak yang pernah saya makan! *mungkin karena ini pertama kalinya kamu makan nasi jamblang kali ya jri -_-





















Selesai makan kami langsung ke hotel, Hotel Asri namanya. Sebenarnya banyak cerita lucu di hotel ini, tapi untuk kemaslahatan bersama sebaiknya off the record saja. Hotelnya menurut saya sangat nyaman, kamarnya luas, kamar mandinya oke, ada kolam renang dan tempat gym juga, dan di lantai dasar ada super market, very recommended. Berbeda dengan trip2 saya sebelumnya yang kebanyakan nginep di rumah warga, home stay, atau losmen, kali ini karna nginepnya di hotel jadi ada waktu lebih banyak untuk leyeh-leyeh menikmati setiap momen, berenang jadi pilihan saya untuk menghabiskan pagi di hotel.
*pemandangan dari salah satu sudut hotel*
















                                    Jika sebelumnya saya cenderung menjadi flash packer yang setiap trip pengennya ke banyak tempat, kali ini saya mendapat pengalaman trip gaya baru yang lebih santai. Trip 2 hari 2 malam ini kami hanya mengunjungi 2 tempat saja, Telaga Nilem dan Gua Sunyaragi. Enaknya jadi flashpacker kita jadi bisa mengunjungi banyak tempat, tapi gak enaknya adalah jadi kurang menikmati karena seperti dikejar2, jadi kesannya cuma dateng trus foto2 trus udah. Nah, kalau yang kemarin meski hanya ke-dua tempat saja tapi kami menikmati banget momennya, quality time dengan teman2, foto2, makan2, ngobrol2, santai, relax, tidak dikejar2, sangat menyenangkan.

Telaga Nilem, butuh waktu 1,5 jam dari hotel untuk menuju tempat ini. Akses jalannya sudah bagus, tapi di petunjuk jalannya yang tertulis Telaga Remis bukan Telaga Nilem. Di sini ada sebuah kolam telaga yang cukup besar, seukuran kolam renang telaga pada umumnya. Air di telaga ini jernih, dingin, dan menyegarkan sekali. Sangat direkomendasikan untuk membawa kacamata renang kalau mau berenang di sini, karna bisa keliatan hijaunya dasar telaga ini. Sangat tidak direkomendasikan membawa sampo, sabun, apalagi detergent beserta cucian kotor karna akan sangat menggoda untuk nyuci-nyuci cantik di pinggir telaga ini. Ayo kita jaga kebersihan tempat wisata yang kita kunjungi ya! Oh iya, untuk masalah kostum, jangan hanya gunakan Instagram untuk referensi outfit kamu ke sana ya, bisa2 salah kostum nanti kaya temen saya yang kesana pakai bikini baju renang mini.
*keliatan banget kan kalo kami (kaya) akrab :p





















Setelah asyik berenang, foto2 dengan berbagai gaya, berenang lagi sampai tangan keriput, perut pasti laper, nah yang paling asyik adalah di sini ada ibu-ibu penjual sorga dunia; mie rebus+telor! Lagi kedinginan trus makan mie rebus+telor+gorengan, yang ada di kepala saat itu cuma bisikan halus “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” *teary-eyed*. Nah, sayangnya di sini tidak ada tempat nyaman untuk bilas ataupun ganti pakaian, jadi ya harus cari semak2 untuk ganti pakaian basah kita, untuk yang wanita saya kurang perhatikan, tapi sepertinya ada tempat yang lebih tertutup dibandingkan semak-semak atau dibalik bebatuan.

Selesai dari Telaga Nilem awalnya kami mau ke pemandian air panas palimanan, tapi karna capek dan males nyasar2 cari lokasi akhirnya kami memutuskan untuk ke batik Trusmi. Selama di Cirebon kami sewa Yaris dan yang nyetir adalah temen kami, sebut saja Meiske, seorang perempuan urban yang bisa mengendarai berbagai jenis kendaraan di berbagai medan, sedangkan 3 cowok di rombongan ini hanya bantu doa sambil setia nyuapin snack ke cici Meiske supaya tetap fokus nyetir. Pulang dari Telaga Nilem kami tentu kelelahan, tapi ancaman diturunin di tengah jalan dari cici Meiske membuat kami secara impulsif nyanyi2 semua lagu Rentak Harmoni dari adegan 1-18 untuk menghilangkan kantuk *sambil impersonate dengan lebaynya gaya bernyanyi masing2 pemeran*. Di tengah teriakan dan lolongan kami saat bernyanyi, 2 orang tetap saja pules, sebut saja Elung *bukan nama sebenarnya* *bukan juga alat transportasi yang digunakan di film2 silat* *eh, itu elang!*, dan juga bu sutradara.
*salah satu foto favorit hasil jepretan bu sutradara*





















Saat hampir sampai ke Batik Trusmi kami memutuskan untuk jalan terus, gak mampir karna ga ada yang memang niat belanja, dan tujuan pun dilanjutkan ke Empal Gentong H. Apud. Ini tempat recommended banget, sate kambing mudanya, empal gentong, empal asem, semua rasanya nendang! Perut kenyang hati riang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Klapa Manis. Tempat ini asyik banget buat nongkrong sama temen2, bisa liat city light Cirebon, ada live music, dekorasi tempatnya antik, luas juga, makanan dan minumannya enak gak mengecewakan, very recommended lah! Selesai makan2 kami foto2 dengan berbagai gaya dulu di sini, lightingnya oke bro!














Setelah sport jantung sebentar karena ganti sopir, sampe juga kami di hotel. Dan hari itu ditutup dengan makan nasi jamblang deket hotel.

Hari kedua, lokasi yang kami kunjungi berikutnya adalah Gua Sunyaragi. Kami baru cabut dari hotel jam 11-an setelah leyeh2 di hotel pagi harinya, ada yang renang, ngegym, dll. Gua Sunyaragi disebut juga Tamansari Sunyaragi, diambil dari bahasa Sanskerta; Sunya artinya sepi, Ragi artinya raga. Tujuan utama dibuat Tamansari ini adalah untuk tempat meditasi dan istirahat para Sultan dan keluarganya. Banyak ruang2 sempit yang bisa ditelusuri di Gua Sunyaragi ini, dulunya Gua ini merupakan taman air dan dikelilingi oleh sebuah danau, yaitu Danau Jati, tapi sekarang danaunya sudah kering dan dijadikan jalan raya. Bagian luar Gua Sunyaragi ini bermotif batu karang dan awan, cantik sekali.















Serunya mengunjungi situs budaya kaya gini tuh kalau ada pemandu wisata yang bisa ceritain asal usul tempat ini, tapi sayangnya waktu itu tidak ada guide yang nawarin diri, jadilah kami menelusuri tempat ini dengan imajinasi masing2 di kepala kami. Kontur Gua Sunyaragi tidak datar, ada bukit hijau kecil di bagian belakang, membuat kami tidak bosan menelusuri tiap jengkal tanahnya. Sayangnya waktu itu sudah menjelang jam 2 siang dan kami harus segera ke stasiun untuk balik ke Jakarta. Niatnya si mau beli oleh2 dulu sebelum pulang, tapi daripada ketinggalan kereta akhirnya kami lanjut terus langsung ke stasiun. Di saat yang lain asyik terlelap di kereta menuju Jakarta, diri ini masih asyik menikmati dan tak ingin rasanya mengakhiri momen2 yang terasa berjalan begitu lambat ini. 

Perjalanan ini sukses memberikan saya pengalaman baru dalam dunia traveling. Jika dunia ibarat sebuah buku, maka 1 halaman lagi yang selesai kubaca *sambil menanti tuk membaca ratusan atau bahkan ribuan halaman lagi.























*) all pictures were taken by bu cici meiske, bu sutradara, umur

Wednesday, December 9, 2015

Work Hard, Play Hard

What I love the most working in Quipper is when I have a business trip to other cities. I always took this chance to meet my friend who lived in those cities or just took a city trip. My first trip was when I gave a training in Cirebon. I met my Indonesia Mengajar's mate, Sanuri and Benny. I also visited Kraton Cirebon and of course found the local cuisine there.

 That was my first trip, after that I visited Makassar for Ambassador Meet Up. After the event, we (me and my office mate) walked along the street near Losari Beach to find Makassar culinary. I loved Makassar! There was Iga Karebosi, my favorite restaurant, i'm an iga lovers and it was really easy to find it in Makassar, and Pisang Ijo in Muda Mudi restaurant, that was the best Pisang Ijo I've ever tasted!

My friends and I took a trip to Bantimurung National Park, this place was quite popular as a kingdom of butterflies. There were some interesting objects inside the national park, we can found lake, cave, waterfall, etc. Once again, do not forget to visit Losari if you are in Makassar, especially in sunset.













I have horror moment in Bantimurung, when 3 of us taking a selfie I saw "another me" stand next to me. I saw it through the screen of the phone that we used to take selfie. I shocked and i took off my glasses right away and move before the camera capture us. My friend said, "ih kok lu bergerak si lagi difoto!" I thought the picture will be without me or if there is me, it will be blur. But as you see the picture above, there is me (and no blur) stand infront of the lake. *trus jadi gak serem klo diceritain pake bahasa inggris -_-
A month my office mate have a business trip to Makassar and they visited Bantimurung as well. The guide told them that the lake was very danger so people don't allowed to swim. So many people died in that lake, no wonder ya why i have that horror moment.

When I have a business trip to Makassar I took unpaid leave and attended my best friend's wedding in Baubau. I was so happy finally I could see him marry his special one. Hopefully I'll meet my special one soon *eeaaa. Before the wedding I took short trip to Wakatobi and have my first diving experience in the center of the world's coral triangle.


















On October my office have a road show to promote our new product to schools in Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Padang, Palembang, and Bandung. I was in charge to visit Yogyakarta, Medan, and Bandung. When I was in Jogja I ask my school mate to meet; Azmy, Anin and her cute baby boy, Raka. That was a great night, meeting my high school mate is always great and special for me. Love you guys, we used to said "uhibbukum fillah" :)














Unfortunately when I visited Medan my friend who worked in Medan was not there, she was in Jakarta at that time, so I took city trip in Medan. I visited Masjid Raya Medan known as Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, Rahmat International Wildlife Museum, Tjong A Fie, and I took train airport for the first time from Medan to Kualanamu. It was an exclusive train, so modern and it cost IDR 100,000/trip, quite expensive I think.














I can't forget my business trip to Bandung, my IM's mate even made a whatsap group to welcome me, lol. And finally we met in that rainy night. Always fun and lot of topic to discuss when I met Pengajar Muda, see you on top ya guys :)














I quite often visit Bandung, but in the last visit I was took to Grand Universal Hotel by my office mate. It was a nice place, and very romantic. I imagine I can visit this place sometimes later with my special one. Before that happens, I present you readers, boy band from Quipper in action :p


















In the next 2 days I'm going to visit Malang and Surabaya, but since it's a quick trip I think I can't even take a city tour, and I have no friend lived or worked in Malang, so I only have a chance to find a unique culinary in Malang. Hopefully our office keep doing business trip and I have a chances to visit more cities, so I can meet my friends to silaturahim with them. Okay, it's almost 3 AM and I still keep doing this randomnes..

Saturday, December 5, 2015

Rentak Harmoni

"Hobi saya traveling, kumpul dengan teman, dan mencoba hal-hal baru. Dan di sinilah saya saat ini, menjalani hobi saya untuk mencoba hal-hal baru"

Itu adalah sedikit cuplikan saat saya mengikuti Audisi Rentak Harmoni pada Sabtu, 4 April 2015. Apaan tuh Rentak Harmoni? Rentak Harmoni ini adalah bentuk kolaborasi dari alumni Pengajar Muda berbagai angkatan dan para relawan yang luar biasa dalam sebuah pertunjukkan seni drama musikal yang bertema pendidikan. Kegiatan ini dibuat untuk masyarakat agar kita semua sadar bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan semua orang bisa berkontribusi untuk memperbaiki pendidikan kita, sekecil apapun bentuk kontribusi tersebut. Adapun keuntungan dari pertunjukkan ini nantinya akan diberikan ke #IuranPublik yang dikelola oleh Indonesia Mengajar.

Ini adalah kali pertama saya mencoba mengaktualisasi diri dan menggali potensi saya di bidang seni, khususnya seni peran. Sebagai orang pemalu, dari kecil saya tidak pernah mau tampil apalagi di depan panggung yang disaksikan banyak orang. Tapi sejak saya selesai kuliah, dimulai dari saat saya bergabung di FIM kepercayaan diri saya mulai meningkat, dan rasa penasaran serta keinginan untuk mencoba hal2 baru menjadi semakin besar. Jadilah saya ikut salah satu kegiatan FIM yaitu FIM ART, dan saat itu lah pertama kali saya menari, iya menari, bersama sahabat kentel saya Dhay memainkan tari indang dari Sumatera Barat yang disaksikan oleh mahasiswa UNJ.

Rasa tidak tau malu percaya diri saya semakin tumbuh lagi saat saya ikut Indonesia Mengajar, sekolah kepemimpinan yang begitu berpengaruh dalam pembentukan karakter dan kepribadian saya saat ini. Sebagai guru di sebuah desa di Papua saya diharuskan bisa segalanya, karena kata Pak Anies di IM kita harus bisa melakukan apa yang tadinya tidak kita bisa, di sinilah kita akan lebih mengenal diri kita dengan segala potensi tersembunyi yang ada di dalam diri kita. Jadilah saya yang amatir dalam hal seni tari ini malah mengajarkan siswa-siswi saya yang masih SD itu tari Saman dari Aceh. Anak Papua nari Aceh, gimana ceritanya tuh? Hehehe

Kok jadi panjang postingannya -_-
Tentang IM mudah2an saya tidak cukup malas untuk membuat postingan terpisah nantinya.

Lanjut, si amatir di seni tari ini akhirnya mencoba level yang lebih tinggi, drama musikal yang mengkombinasikan seni peran, tari, dan suara sekaligus! Bahkan saya belum pernah nyanyi di depan orang banyak seumur hidup! Tapi ternyata menyanyi tidak lebih sulit daripada peran. Saya merasa kesulitan sekali untuk mendalami karakter saya, bahkan sampai sekarang. Kalau menghafal naskah sih tidak terlalu sulit bagi saya, tapi membawakannya ini yang saya belum dapat kuncinya. Mudah-mudahan pada akhirnya nanti bisa memuaskan saya dan orang yang menonton. 

Saturday, February 28, 2015

Pandangan Subjektif Seorang Turis: Part 3

Kalau di postingan pertama tentang Filipina saya membahas tentang transportasinya, postingan kedua dan ketiga ini saya asyik membahas keunikan negara ini. Masih ada hal-hal yang menurut saya unik di Filipina, diantaranya:

1. Budaya bebas yang bablas. Bicara tentang gaya hidup, di Filipina bisa dibilang copy-paste dari Amerika. Mungkin karena Amerika pernah lama ada di negara ini jadi hampir semua dicopy-paste. Kebebasan yang kebablasan, itu pendapat pribadi saya sih. Minuman keras dijual bebas dengan harga murah, panti pijat ++ merajalela, banyak pasangan tinggal bareng satu atap, jumlah mamah muda tak bersuami di sana banyak menn. 


2. Basket, olahraga paling populer di negara ini adalah basketball, lagi-lagi Amerika. Kalau sedang ada pertandingan basket di TV, hampir pasti diluar toko-toko yang lagi setel pertandingan itu banyak berjejer masyarakat menonton dari luar toko. Bola kaki di sana kalah pamor dengan olahraga gaul ini.


3. Rambut lurus dan pirang, keunikan orang di sini sebagian besar rambutnya lurus tergerai sempurna, jarang banget saya melihat ada orang yang rambutnya kriting di sini. Selain lurus, cewek-cewek di sini banyak sekali yang mewarnai rambutnya, warna favorit pirang atau merah kecoklatan. Sangat Amerika. Bisa jadi ini karena saya tinggalnya memang di kawasan Central Business District Makati makanya wanitanya hobi mewarnai rambut, kalau di pedesaan saya yakin semua wanitanya berambut hitam alami.


4. No plastic in Makati, ini aturan yang paling asik di wilayah khusus Makati. No plastic at all! Di mall kalau belanja harus bawa bag sendiri atau ya dikasih wadah dari kertas daur ulang berwarna coklat. Berasa di Amerika (kaya pernah ke sana aja), pulang dari mall gendong-gendong belanjaan yang dimasukkan di bungkusan kertas warna coklat. Peraturan ini dituangkan di peraturan daerahnya, diprint dan disebar di pusat2 perbelanjaan. Jakarta kapan nih Jakarta?!?!?!


5. Pistol, di negara ini terkenal banyak orang memiliki pistol, karena itu satpam di sana tidak cukup hanya bermodalkan pentungan seperti satpam di negara kita. Setiap masuk mall satpamnya akan memeriksa pinggang kita apakah bawa pistol atau tidak. Tapi selama di sana saya belum pernah melihat langsung orang yang membawa pistol, kecuali ya satpam itu sendiri yang dibekali dengan senjata.

6. Bank, terkait dengan kepemilikan pistol oleh masyarakatnya, keamanan di bank bisa dibilang sangat ekstra. Bukan pemandangan aneh lagi kalau satpamnya pegang senjata laras panjang. Saking menjaga keamanan, di pintu ada satpam yang bertugas membuka pintu bagi nasabah yang datang, dan dikunci dari dalam. Iya, dikunci-dari-dalam-setiap-ada-orang-masuk-dan-keluar. Ribet? Buanget. Tapi yah demi keamanan bersama harus dilakukan.


7. Ini yang paling menarik, accent! Kemampuan berbahasa Inggris orang Philippines bisa dibilang sangat baik, karena bahasa Inggris menjadi bahasa resmi kedua di negara ini. Bahkan tukang bubur, satpam, penjaga laundry rata-rata bisa berbahasa Inggris cukup baik. Rambu-rambu, segala aturan di gedung kantor, reklame di jalan, banyak yang menggunakan bahasa Inggris. Orang di sini kalau berbicara suka dicampur antara bahasa Tagalog dengan Inggris, sehingga dikenal istilah Taglish. Ada yang lucu jika kita mendengar orang Filipina berbahasa Inggris, yaitu aksennya. Jika ada bahasa Inggris berakhiran –le, maka dibaca “ol”, contoh: apple=apol, table= tabol, simple=simpol. Huruf “a” dibaca bukan “ae” tapi “a”, contoh: black=blak, back=bak, lack=lak. Kata berakhiran –tion, dibaca “sion”, contoh: question=kuesion, activation= aktifasion, relation=relasion. Sama seperti orang Indonesia berbahasa Inggris lah, pasti kadang ada akses yang lucu, kaya aksen orang Sunda yang tidak bisa bilang “f” :p


sumber gambar:
http://trendsupdates.com/tobacco-alcohol-cigarette-brands-allowed-to-advertise-their-brand-extensions/
http://vernoncroy.com/2434/2010-nba-sprite-slam-dunk-competition-betting-odds-preview/
http://www.newtress.com/index.php?route=pavblog/blog&id=51
http://havebusinessliveandworkinmakaticity.blogspot.com/2013/07/makati-city-says-no-to-plastic.html
http://designforfun.com/display.php?id=15
https://misfit120.wordpress.com/2014/07/25/instructions-on-how-not-to-rob-a-bank/
http://philbasiceducation.blogspot.com/2012/08/deped-k-to-12-teaching-math-and-science.html


Wednesday, February 25, 2015

Pandangan Subjektif Seorang Turis: Part 2

Menyambung dari postingan sebelumnya, masing-masing negara tentunya memiliki keunikan tersendiri, begitu juga dengan negara yang baru saya datangi yaitu Filipina. Sebagai seorang yang pernah tinggal hampir 4 bulan di sana berikut adalah hal-hal yang menurut saya adalah unik:
1. Sapaan, di Filipina seperti negara lainnya tentu memiliki kata sapa untuk orang lain. Jika di Indonesia ada abang-mpok, mas-mbak, uda-uni, pace-mace, dll, di Filipina ada kuya-ate, kuya untuk sapaan ke laki-laki sedangkan ate untuk perempuan. Gimana kalau Uya Kuya ke Filipina? Panggilannya jadi kuya uya kuya *sounds weird. Orang Filipina hampir selalu menambahkan kata "po" di akhir kata untuk menunjukkan kesopanan. Contoh: excuse me po, halo po, sorry po, thank you po, para po. 
2. Pakaian tradisional di Filipina adalah baju barong, yang katanya terbuat dari serat nanas. Entah bagaimana cara buatnya, yang jelas baju ini mahal. Saya pernah mau beli untuk oleh-oleh, tapi harus diurungkan niatnya karena harganya di atas 1 juta semua. Ada juga yang murah, tapi karna katanya terbuat dari serat nanas khawatir kalau yang murah begitu malah gak awet dan berujung jadi bahan buat rujakan. Modelnya seperti baju koko tapi transparan sekali, jadi harus pakai baju dalam.
3. Balot, ini adalah makanan tradisional khas Filipina yang berkhasiat menambah stamina pria. Biasa dijajakan di pinggir jalan, ada juga yang berjualan malam-malam berkeliling menggunakan sepeda.  Balot adalah telur bebek yang direbus, tapi bukan telur biasa karena balot lebih pas kalau disebut janin/embrio bebek. Telur bebek pada umumnya langsung direbus sebelum dieram oleh induknya, nah kalau balot ini adalah telur yang sudah berbentuk menjadi itik tapi belum sempurna. Sehingga ketika kita memakannya ada sensasi tulang, bulu, dan organ itik lainnya di mulut kita. Saya belum pernah mencoba makan barang ini, membayangkannya saja sudah membuat jijik, hehe. Saran orang Filipina bagi orang yang akan makan balot untuk pertama kali, makanlah di tempat yang gelap. Menurut teman saya yang pernah makan barang ini, setelah makan badannya langsung panas dan tidak bisa tidur. Makanya cocok untuk menambah stamina pria. WARNING: tidak baik dikonsumsi jomblo.
4. Antri, budaya antri di Filipina patut diacungi jempol. Kalau antri di atm, di bank, rumah sakit, itu wajar, tapi antri ketika mau naik kendaraan? Baru di Filipina saya melihat yang seperti ini. Mau naik LRT antri, mau naik angkot pun antri, antrinya bisa sampai panjang sekali. Antriannya pun rapi sekali satu persatu berbaris ke belakang.

5. Payung, di Filipina orang-orang bilangnya "payong" adalah benda yang sangat penting dan wajib dimiliki oleh setiap manusia di Filipina. Di sini bukan hanya ketika hujan orang-orang menggunakan payung tapi juga ketika panas matahari begitu terik. Uniknya, bukan hanya wanita yang menggunakan payung dikala panas terik tapi juga pria, mereka tanpa segan membuka payungnya dikala panas matahari menyinari kulit mereka, pemandangan yang sangat jarang ada di Indonesia. Di Indonesia sebaliknya, ketika hujan gerimis pun laki-laki masih rasa segan untuk membuka payung, kecuali kalau hujan sudah sangat deras.

6. The land of Typhoon sangat cocok menjadi julukan negara kepulauan ini. Bahkan saking seringnya typhoon menghantam negara ini setiap tahun, warga di sini menamakan typhoon sesuai alfabet dari A sampai Z. Hari pertama kedatangan saya di Filipina typhoon Mario baru saja lewat, dan sebelum saya pulang giliran typhoon Ruby yang menyapa warga Filipina. Typhoon di Filipina ada yang namanya perempuan seperti Yolanda, Ruby, ada juga yang laki-laki seperti typhoon Mario. Menurut orang di sana typhoon "perempuan" umumnya lebih destruktif dibanding dengan typhoon "laki-laki", nah lho :p


sumber gambar:
https://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/keep-calm-and-love-kuya-and-ate-2/
https://emmblu.wordpress.com/2010/12/05/the-barong-tagalog-as-a-symbol-of-pride/
http://www.bizarrefood.com/blog/fertilized-duck-embryo-balut/
http://www.theblaze.com/stories/2013/11/07/the-pictures-of-what-could-be-the-biggest-typhoon-ever-are-downright-terrifying/