Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Sunday, August 5, 2018

Seongju Culture Festival

Kebiasaan saya kalo tiap weekend gak ada kegiatan rutin adalah mulai mikir macem-macem, dan yang paling sering adalah resign resign dan resign, saking bosennya. Setelah berjibaku dengan IELTS tiap weekend di bulan Januari, Februari kebosanan itu melanda kembali, dan di saat puncak kebosanan saya melihat di status whatsap teman saya, sebut saja Anneke, ada postingan tentang Culture Festival, atau lebih familiar disebut misi budaya, di Seougju, Korea. Sifat impulsif saya langsung keluar dan saat itu juga langsung daftar untuk ikut acara itu. Meskipun saya gak suka Korea dan gak pernah ada niat mau kesana, tapi yang saya kejar adalah misi budayanya. Buat komunitas tari sebenernya acara misi budaya lebih familiar saat di bangku kuliah, tapi berhubung saya ga gaul di kampus saat kuliah saya ga pernah tau ada kegiatan2 macem gini. Keinginan kuat saya untuk resign punya pengalaman ikut misi budaya lah yang akhirnya membuat saya begitu impulsif ikutan acara ini sehingga keinginan saya untuk resign jadi teralih.

Kontingen Indonesia mengirim 3 tim, 1 dari Bandung dan 2 dari tim kami yang masing-masing membawakan 1 tarian yaitu Tari Piring dari Minang dan Tari Enjot-Enjotan dari Betawi. Kami punya waktu 2 bulan untuk latihan. Awalnya saya lebih berkeinginan untuk membawakan tari piring karena saya lihat tari betawi terlalu mudah, tapi karena tari betawi butuh berpasangan sedangkan hanya ada 3 pria di tim kami, jadilah ketiganya harus ikut tari betawi. Saat mulai latihan, saya kapok karena menganggap tari betawi mudah, ternyata itu hanya ilusi, susahnya kebangetan karena musiknya sulit dijadikan patokan. Again, karena saya gak punya basic nari, meskipun sudah 2x ikut Indonesia Menari, saat workshop tari betawi yang mana cuma 1 hari full, saya keteteran, malu banget karena gerakan saya kaku, kalah sama ondel-ondel.

Setelah melewati serangkaian latihan, diomelin berkali2 karena gerakannya salah mulu apalagi bagian langkah gatot kaca, lutut lebam karena harus sleding berkali-kali, gerakan selancar yang ga selancar namanya, bagian detail yang selalu kurang (kurang rendah kuda2nya, kurang bungkuk, kurang chemistry, kurang galak, kurang senyum, kurang kompak, kurang ini dan kurang itu banyak lah) -bagian favorit saya adalah silat karena dari awal saya ga pernah salah, hahaha- akhirnya kami pun siap untuk tampil di kancah Internasional memperkenalkan budaya Indonesia. Sebelum tampil di Korea kami ada uji tampil dulu tampil di depan anak-anak asuhan Indonesia Mengajar, mereka tampak terhibur sekali dengan tarian kami.

Nah, acara misi budaya ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Awalnya saya gak niat puasa pas di sana karena musafir, tapi ternyata pas di sana saya kepikiran pemain bola yang muslim aja beberapa tetep puasa meski main bola, ditambah banyak peperangan terjadi di bulan Ramadhan dan mereka bisa tetep jaga puasanya, kenapa saya gak bisa padahal saya cuma joget-joget doank. Akhirnya saya memutuskan tetep puasa sepanjang festival budaya. Tapi tetap ada 1 hari saya gak puasa karena mau cobain juga pengalaman jalan-jalan di siang hari sambil bisa kulineran, hehe.

So, gimana keseruan saat di sana? Let the pictures speak...
Ini adalah saat acara pembukaan, di saat kontingen dari negara-negara lain sedang menyantap hidangan, kami foto2 aja ya kan daripada mati gaya. Di sini kami sengaja untuk kompak mengenakan kebaya bagi yang wanita dan batik bagi yang pria. Maafkan gaya temen-temen yang di lesehan, mereka terobsesi dengan ANTM.

tanpa disengaja, 4 orang dari kami kompak menggunakan warna yang sama, coklat

Festival ini berlangsung selama 5 hari, di hari pertama yaitu acara pembukaan kontingen Indonesia di pecah, ada yang tampil di panti jompo untuk menghibur lansia di sana, ada yang tampil di panggung sore harinya. Tim kami kebagian untuk menghibur ahjumma dan ahjussi di sana. Tari piring dibawakan dengan sangat hati-hati, untungnya ga ada piring yang jatoh dan pecah yang bisa membuat para aki dan nini terkejut dan jantungnya kumat, fyuhhh.

Saat nunggu azan Maghrib di hari pertama nih, kami pake count down segala di dalem bus, semacam norak, hahaha. Oh iya puasa di Korea kemarin jadi pengalaman baru buat saya karena untuk pertama kalinya saya merasakan puasa 16 jam; Subuh di sana jam 3.30 am, buka jam 7.30 pm. Jangan harap bisa denger azan dari Masjid di sana ya, karena masjid yang saya jumpai di Korea hanya ada di Itaewon yang merupakan daerah komunitas muslim.

Ini penampilan dari tim Bandung saat acara pembukaan, nama tariannya Mojang Priangan.
Hari kedua tiba yang merupakan hari pertama kami untuk tampil di panggung. Sambil nunggu bus datang, para wanita masih sibuk tusuk sana sini memastikan kostum dan segala propertinya tidak berguguran saat menari.

Indonesia itu gotong royong. Saya selalu senyum2 sendiri liat foto ini, hehe. Saat menunggu giliran tampil pun mereka masih disibukkan dengan touch up sana-sini. Seyogyanya pria memang tidak pernah dandan, saat misi budaya ini kami diharuskan untuk dandan sendiri, ya jangan salahkan kalau alis akhirnya ada yang seperti sinchan, gunung, ataupun ulet bulu., dan jadilah para wanita sibuk ngebenerin alis pria nya.

Agar penampilan sempurna, latihan lagi sebelum tampil. Entah kenapa saya dan Nadia mukanya jutek banget bak pasangan yang lagi berantem gara2 belanja bulanan kurang.

Foto dulu buat cover kaset "kumpulan tari tradisional nusantara"
Tim Piring yang pertama tampil sebelum tim Enjot. Selama latihan tari piring entah sudah berapa piring yang pecah, makanya tiap kali tim piring tampil saya selalu nervous takut ada piring yang jatuh dan pecah. Alhamdulillah sepanjang festival, tiap kali tim piring tampil tidak ada piring yang pecah, kalau hampir jatuh ada untung bisa dipegang kembali dengan begitu cekatannya sama temen kami, fyuhhh.

Kostum tari piring yang meriah, gerakannya yang lincah, dan musiknya yang kece parahh sukses membuat para tamu undangan terhibur. Suntiangnya didatangkan langsung dari Bukit Tinggi lho. Saya selalu suka dengar musik untuk tari piring ini, mulai dari saluang di bagian awal yang bikin hati sejuk sampai talempong yang bikin musiknya jadi makin energik.

Tibalah tim Enjot tampil, dengan gerakan "misi neng" yang saya karang sendiri istilahnya.

Tari Enjot-Enjotan ini adalah tari kreasinya Entong Sukirman yang menggambarkan tentang keseruan pergaulan muda-mudi Betawi yang gerakannya dipadukan dengan gerakan silat bagi prianya. Gerakannya didominasi oleh gerakan selancar, seperti apa itu gerakan selancar? Saya pun bingung jelasinnya.

Bagi prianya ada gerakan loncat saat wanita kasih gerakan kepret, ada juga gerakan sleding bagi prianya yang bikin kami bersyukur pada pencipta dekker yang bisa menghindari kami dari cidera lutut.


Saat festival ada 2 panggung dan ini adalah saat kami tampil di panggung utama, siap-siap gerakan langkah gatot kaca yang mana saya selalu salah dan gak kompak, hehe.

Lagi-lagi saya bingung kenapa mukanya galak banget ya itu harusnya kan senyum sumringah, atau mungkin karena lagi membelakangi penonton ya dan capek senyum mulu makanya nyolong nunjukkin muka sebenarnya, wew.

Selesai nari, kami kontingen Indonesia foto bareng.

Kalo yang ini anak-anak remaja Korea lagi pada dance, ternyata asik diliat juga
Di hari keempat ada parade, setiap kontingen jalan kaki sejauh 3 km sambil menari di 3 spot, salah satunya spot di atas. Kami pilih tari poco-poco yang mana paling mudah, karena kita ga ada latihan bareng dengan tim Bandung untuk parade ini makanya dicari tari yang paling sederhana yang bisa dilakukan bareng-bareng.

Parade diakhiri di panggung utama dan kami nari lagi di sini disaksikan sama walikota Seongju. Paling seru saat parade adalah kontingen Brazil dengan dandanannya yang luar biasa meriah, tapi bisa dibilang malkostum karena kostum mereka super sexy ditengah dinginnya udara Seongju saat itu. 

Selesai parade, acara dilanjutkan dengan closing ceremony oleh warga lokal Seongju. Yang saya suka festival ini benar-benar diikuti oleh semua umur dari anak-anak kecil sampai orang-orang tua yang masih aktif memainkan alat musik di atas. Ada juga acara tarik tambang yang mana tambangnya besar dan berat sekali, dan itu ditarik-tarik sama kami beserta seluruh warga yang ada di festival saat itu, seru sekali tanpa ada jarak dan kecanggungan satu sama lain.

Acara makin heboh saat ada salah satu band Korea, yang tak kukenal namanya apa, tampil dan semua orang, literally semua orang going crazy joget-jogetan. Bahkan ibu-ibu di foto itu "menggilir" 3 teman saya untuk berjoget bersama dia sepanjang lagu, energinya kuat banget mennn!! Jogetnya energik pula bukan joget selow kaya poco-poco.

Pemandangan cukup unik malam itu karena suasananya seperti konser dengan banyak orang berjoget bersama, ditambah berbagai kostum unik dari berbagai negara. Pernah liat gak orang pake suntiang joget-joget kaya lagi clubbing? Nah kurang lebih seperti itu lah suasananya. We were really having fun that night! Bahkan sampai di bus pun teman-teman masih asik joget-joget sambil nyanyi, ditambah lampu di bus yang dibuat meriah, semacam stress relief.

Sebelum pulang ke negara masing-masing kami sempet foto-foto dengan kontingen Thailand. Selain itu ada juga dari New Zealand dan Rusia yang juga hadir menyemarakkan Seongju Festival.


Nah, klo ini temen saya iseng membandingkan betisnya yang besar dengan betis kontingen Rusia yang super slim. Acara Seongju Festival di akhiri dengan city tour di hari terakhir dan setelah itu kamipun balik ke Seoul dan bersiap pulang ke Indonesia. Tapi karena saya extend jadi saya tetap di Seoul selama 3 hari berikutnya.

Meskipun misi budaya selesai, silaturahmi tetap terjalin donk. Ini adalah saat halal bihalal setelah lebaran kemarin. Misi budaya ini benar-benar memberikan pengalaman yang gak akan pernah saya lupakan. Saya selalu bangga dengan budaya Indonesia dan selalu bangga juga menceritakan tentang keunikan Indonesia dengan berbagai keragaman budayanya kepada orang-orang luar negeri yang saya jumpai ketika trip. I Love Indonesia 💗

Oiya kalau penasaran dengan videonya bisa diliat disini, kalau mau liat saya ada di tim Enjot mulai dari menit 11.10, please enjoy the show!

Tuesday, January 23, 2018

Secarik Catatan di Negeri Ottoman (Part 8)

Perjalanan ke Pamukkale sekitar 6 jam, awalnya kenapa saya beli tiket keberangkatan jam 3 sore dari Antalya itu karna mau liat sunset di Hierapolis, Pamukkale. Nyatanya, perjalanan lebih lama dari perkiraan, DAN cuaca mulai jelek alias ujan terus. Di Pamukkale ini kami tinggal dapet host di couchsurfing (CS), namanya Veli. Orangnya gak terlalu banyak bicara, tapi baik dan helpful banget, dia jemput kami dari tempat turun dolmus. Makan malam kami disediakan sama Veli, dia masak sendiri, dan sayur2annya (makanan wajib orang turki) diambil dari halaman depan rumahnya, hasil tanam sendiri. Dia juga ngasih kami oleh2 Turkish coffee setelah kami kasih oleh2 dari Indonesia, dan dia seneng banget dikasih oleh2 dari Indonesia, karna ini pertama banget dia dapet oleh2 khas Indonesia.
Veli in action - cooking dinner
Pagi hari kami bangun dan ternyata hujan deras, padahal kami hanya punya 1 hari saja untuk mengeksplore Pamukkale. Manusia punya rencana, Tuhan punya kuasa, maksud hati mau eksplore dari pagi apa daya hujan tak kunjung berenti (jadi kaya pantun). Alhasil kami baru keluar dari rumah jam 12 lewat sekian, dan itu menerobos hujan, dingin banget men! Veli nganter kami dengan motor metiknya ke gerbang Travertine, boncengan bertiga kaya cabe2an payungan pulak, hahaha. Kami hanya punya waktu sekitar 4 jam saat itu karna mau kejar kereta ke Selcuk sore harinya. Sedih mennn, Pamukkale terlalu cantik untuk dieksplore 4 jam saja, waktu ideal adalah seharian penuh untuk bisa bersantai di Pamukkale ini.
untung ada indomie pelipur lara ya Allah
pagi2 ujan deres bikin galau

persis kaya gini tapi male version 😂
bukit kapas penyambut kedatangan
Ada apa si di Pamukkale? Ada 2 tempat wisata yang berada dalam 1 kompleks di sini, Travertine dan Hierapolis. Kami harus bayar 40 TL terlebih dahulu untuk masuk ke tempat wisata ini. Travertine adalah kolam air hangat yang bentuknya berundak-undak, warna putih seperti salju hasil sedimen sulfur, dan kalau cuaca terik airnya terlihat berwarna biru, kontras dengan dinding kolam yang berwarna putih. Sedangkan Hierapolis adalah reruntuhan dari zaman Yunani yang tersebar di kompleks yang sangat luas, dan yang paling bagus tentu saja arena gladiator sekaligus theaternya. Theater ini bisa dibilang masih utuh, dibandingkan dengan reruntuhan bangunan yang lain.
kalau cerah si pemandangannya kaya gini 😖
karna gloomy dan dingin banget jadilah pemandangannya seperti ini

di beberapa bagian ada yang kolamnya kosong tak berair
barisan manusia menuju -atau -dari - Hierapolis
Untuk masuk ke komplek wisata ini ada 3 pintu, dari atas bukit yang mana kita bisa lihat banyak reruntuhan Hierapolis yang tersebar, dari tengah bukit dimana theater yang paling ikonik ini berada, dan dari bawah bukit, yaitu tempat Travertine si kolam air panas berdinding kapas (Travertine sering disebut juga cotton castle). Waktu itu kami masuk dari bawah, melewati Travertine yang sangat cantik terlebih dahulu. Saat melewati Travertine kita diwajibkan melepas alas kaki, karna takut terpleset. Kalau cuaca sedang tidak hujan, banyak yang berenang di kolam2 ini, tapi saat kami di sana meski dingin dan matahari tidak muncul, tetep aja ada yang berenang. Niat kami untuk berenang pun harus diurungkan karna gak kuat dinginnya, meski airnya hangat dan bikin nyaman *pasangan kali ah bikin nyaman*, tapi kalau udah keluar kolam dinginnya khan maen!
peta Hierapolis di atas Travertine
again, kalau panas, banyak yang berendem di sini...
Selesai menyusuri Travertine sampai ke atas, kami pakai alas kaki kembali dan mulai mendaki bukit untuk ke Theater sebagai ikon Hierapolis. Sepanjang pendakian kita disuguhkan bukit dengan permadani hijau rerumputan dan warna merah kuning bunga2 yang tersebar di atasnya, kalau saya bilang mirip penggambaran khas negri Eropa dengan bukit2 hijaunya dan bunga2 yang cantik. Sampai di theater saya kagum sekali melihat bangunan klasik ini, yang usianya sudah ribuan tahun tapi masih terpelihara kemegahannya. Oiya, sisi positif dari hujan ini adalah tempat wisatanya jadi sepiiii banget, serasa yang punya Hierapolis lah waktu di sana karna turisnya bisa dihitung jari. Theater Hierapolis ini katanya bisa menampung 15,000 orang dan biasa digunakan untuk pertunjukkan, gladiator, pertemuan, mirip gedung serbaguna gitu lah. Puas menikmati kemegahan theater, kami turun kembali melewati jalan setapak yang berbeda, dan masuk komplek Travertine lagi, jangan lupa lepas alas kaki bro!
reruntuhan arena gladiator diliat dari sisi belakang

bukit hijau penuh bunga, FYI yang jaket biru bukan princess syahrini

banyak reruntuhan sepanjang jalan
berkah hujan, bisa foto bebas tanpa kebocoran sosok manusia

the magnificent theater of Hierapolis
tempat wudhu *yakali 😑

Waktu cari rumah Veli kami kesasar, padahal rumah Veli tidak jauh dari gerbang Travertine, tapi emang dasar spasial saya jelek banget jadilah kami nyasar. Setelah dikirim location via google maps baru lah kami kembali ke jalan yang benar. Balik ke rumah Veli kami ambil tas carrier kami, dan diantar Veli ke tempat menunggu Dolmus untuk ke Denizli. Dari otogar Denizli kami nyebrang ke arah stasiun kereta, lari-larian karna waktunya udah mepet banget. Saya sempet tanya2 orang sekitar stasiun kereta pakai bahasa Turki, “tren istasyonu” tapi pada gak ngerti donk, pffttt, yaudah akhirnya ngikutin insting aja, Alhamdulillah sampai di stasiun kereta tepat waktu, dan kereta ke Selcuk sudah menunggu di peron.
bersama Veli si host pendiam yang pintar masak dan baik hati
Kereta di Turki ternyata jalannya lama sodara2! Pantes aja orang2 lebih memilih bus untuk transportasi antar kota, karna meski lebih mahal dari kereta tapi ya lebih cepat sampai. Beda banget ama di Indonesia yak, di sini justru kereta lebih cepat dan enaknya ada pilihan harga pula (ekonomi, bisnis, eksekutif). Keretanya standar lah menurut saya, tapi ya tetep si lebih bagus dari kereta Indonesia, hikss, bangkunya lebih nyaman. Tempat duduknya juga di sana bebas pilih, tinggal cari yang kosong aja, awalnya saya cari2 nomor di bangku, bolak balik dari 1 gerbong ke gerbong lainnya, sampai ada mba2 cantik yang kasih tau kalau kita bisa duduk dimana aja, duhh ojannn!
penampakan di dalam kereta
Perjalanan Denizli-Selcuk sekitar 2 jam 50 menit, oiya harga tiketnya 15 TL. Begitu sampai di stasiun kami jalan menuju host CS saya berikutnya, namanya Ibrahim. Waktu melewati terowongan di stasiun ini agak spooky juga, ga ada orang sama sekali, ‘untung saya ga sendiri’ pikir saya. Sebelum ke tempat Ibrahim kami makan malam dulu, waiternya friendly banget, dan seneng ketemu orang Indonesia, namanya Ismail, saya ama Malik ketawa2 sambil nebak2 pasti adeknya namanya Ishak, kami pun berselfie ria di sini. Selesai dinner, kami langsung jalan cari tempatnya Ibrahim, anyway selama di Turki kami banyak banget jalan kaki dari 1 tempat ke tempat lain, selain karna biar hemat budget jalan kaki di sini enak karna bisa menikmati pemandangan sekitar, bahkan ketika malam hari pun lightingnya memanjakan mata.
bersama Ismail yang seneng banget ketemu orang Indonesia katanya
Setelah lagi-lagi kesasar, sampai juga kami di tempatnya Ibrahim yang ternyata
adalah guesthouse, Anz Guesthouse namanya. Ibrahim, stranger paling baik dan paling helpful yang pernah saya temui seumur hidup, kenapa? Hmm, lanjut di postingan berikutnya aja dah, hehe.

bonus, meratapi jodoh cuaca

Monday, January 22, 2018

Secarik Catatan di Negeri Ottoman (Part 7)

Agenda hari ini adalah perjalanan dari Cappadocia menuju Antalya. Dari rumah Cihan menuju terminal Urgup kami dianter sama Umit, dari Urgup waktu itu kami ke Nevsehir dulu jam 8.30 pagi, sedangkan bus Nevsehir-Antalya berangkat jam 10.30 pagi. Perjalanan ke Antalya sekitar 9 jam menggunakan bus Metro. Paling berkesan selama perjalanan ke Antalya adalah pertama kalinya saya melihat gunung yang diatasnya diselimuti oleh es, dengan jarak yang sangat dekat di kanan dan kiri kami. Saat ini lah saya pikir, mungkin ini sisi positifnya saya gak jadi naek balon udara di Goreme, karna kalo naek balon udara pasti naik bus ke Antalya malam dan ga bisa liat pemandangan indah sepanjang perjalanan ke Antalya ini.

bus Metro ini yang paling banyak digunakan di Turki untuk transportasi antar kota

cukup nyaman karna ada TV jadi bisa sambil nonton (sambil nebak2 pada ngomong apa karena ga ada subtitlenya)

pertama kali melihat salju beneran dengan jarak sedekat ini


Sampai di Antalya sekitar jam 19.30, masih lumayan terang karna matahari terbenam jam 19.50-an. Dari Otogar, kami naik Tram? Saya lupa kami naik apa, hahaha, tapi kayanya si Tram, yang jelas kami beli Antalya Kart dulu seharga 6 TL untuk bisa ke pusat kota dari Otogar. Sampai di pusat kota kami cari-cari hostel dulu, ternyata yang ada di google maps salah, jadilah kami nanya2 sama warga sekitar pakai bahasa tarzan. Si empunya hostel namanya Erkan, kami komunikasi menggunakan google translate di komputernya, ganti2an ngetiknya, kalau diinget2 lagi kocak juga. Kami nanya sama Erkan tempat2 yang recommended selama 2 hari kami di sini, dia pun tulis di notes 3 tempat wajib yang perlu didatangi beserta cara menuju tempat tersebut, helpful banget lah dia.

Esok harinya kami explore Old Town Antalya, namanya Kaleici. Kota tua di Antalya ini terjaga sekali, dan cantik banget pastinya, bisa dibilang ini adalah kota tua paling cantik yang pernah saya liat. Sebelum masuk ke kota tua ini kita disambut gerbang Hardian yang gagah menjulang. Di dalam kota tua sendiri banyak toko di pinggir2 jalannya, baik itu toko souvenir, minuman, ice cream, ataupun makanan. Berhubung kami ke sana waktu pagi, makanya masih sepi dan sangat tepat untuk foto2, hehe. Mulai siang sampai sore tempat ini semakin ramai.
Patung Attalos, pendiri kota Antalya di tahun 159-138 SM

Gerbang Hardian sebagai pintu masuk ke kota tua
muka si Aki kegelian karna kupingnya saya tiup


what a beautiful old city!

sooooo clean! padahal banyak pedagang juga

spring dan summer adalah saat yang tepat ke Antalya karna bunga lagi bermekaran
Setelah dari kota tua kami ke pinggir laut, ada benteng, dan clock tower simbol kota Antalya di sini. Antalya ini adalah kota cantik di pinggir laut Mediterania. Tempat yang sangat touristic karna banyak cruise ship yang singgah di sini. Antalya, Fethiye, Bodrum, adalah tujuan paling favorit bagi para turis di kala summer, karna musim panas di sini katanya lebih panjang dibanding daerah lain di Turki. Karena saya mengunjungi Antalya, makanya saya skip Bodrum dan Fethiye.
Clock Tower Antalya
The blue mediteranian sea





pedestrian untuk jalan santai sambil menikmati laut
Air mancur tempat burung2 minum
paket lunch lengkap turki, selalu ada roti dan salad (tak lupa sambel terasi for lyfe!)

Tujuan berikutnya adalah Duden Waterfall di Lara. Duden Waterfall ada 2 di Antalya, dengan sumber air yang sama. Duden Waterfall atas dan Duden Waterfalls di Lara yang ada di bawah. Awalnya kami mau diajak Erkan ke Duden Waterfall yang di atas, karna lokasinya dekat rumah Erkan, tapi karna anak doi sakit jadi dia harus ke rumah sakit saat itu juga, akhirnya kami ke Duden Waterfall di Lara sambil berharap bisa liat sunset di sana. Duden Waterfall di Lara ini sangat unik, karna air terjunnya langsung ke laut Mediterania. Banyak negara katanya minta ke Turki buat mengambil air terjun ini untuk dibuat perusahaan air minum, tapi selalu ditolak. Cara ke air terjun ini juga mudah sekali, hanya 1x naik bus yang ada tulisan “Lara” di depannya. Waktu tempuh dari pusat kota sekitar 20-30 menit saja. Banyak tempat makan cozy di pinggir sungainya, tapi sayang niat kami mau liat sunset di situ gagal karna tertutup awan 😭

tempat makan cozy di pinggir sungai

the magnificent waterfall of Lara


bunga di pinggir tebing pemanis pemandangan di air terjun Lara

enjoying the solitude

Puas menikmati moment di Duden Waterfall sampai maghrib, kami pun balik dan istirahat.
kamar murah meriah di antalya, 270ribuan saja per malam termasuk sarapan
Esok harinya giliran Duden Waterfall bagian atas yang kami jelajahi. Cara ke sini juga mudah, tinggal 1x naik bus dari MarkAntalya Mall, cari bus yang ada tulisan “Duden Selalesi” di depannya. Duden Waterfall yang bagian atas ini ada biaya masuknya tapi murah banget, hanya 3 TL. Salah satu hal yang paling saya suka dari tempat2 wisata di Turki adalah manajemennya yang sangat baik. Duden Waterfall ini contohnya. Tangga-tangganya, jalan setapak, bangku2 panjang, taman, tempat makan, warung teh, tata letaknya memperhatikan estetika sekali, ditambah memang kontur alamnya yang unik.
semacam monumen

jembatan kecil yang sering jadi spot foto

Mescid di sana sama seperti Mushola di Indonesia, kalau masjid besar di sana disebutnya Cami, klo di Indonesia Jami malah sebutan lain untuk mushola

well managed infrastructure

bangku panjang disebar di lokasi2 strategis untuk pengunjung duduk sambil menikmati alam
the waterfall
Keunikan waterfall ini adalah terdapat gua yang bisa kita masuki dan tembus ke belakang air terjunnya. Gua yang ada pun tidak menyeramkan, malah dibuat secantik mungkin dengan lighting, tangga, dan dinding batu yang dibuat seperti balkon, diujung gua agak basah sedikit karena rembesan air terjunnya. Ow, bagian paling favorit saya adalah jembatan cantik yang dikelilingi hijau pepohonan, natural dan damai banget rasanya. Sayangnya kami tidak bisa lama-lama di sini karna kami sudah beli tiket ke Pamukkale untuk keberangkatan jam 15.00. Jadilah kami buru-buru kembali ke hostel dan ambil barang kami, untuk lanjut ke Pamukkale.

tangga menuju gua belakang air terjun

gua menuju belakang air terjun

persis di belakang air terjun!

my favourite spot! Rivendell?
Bus Pamukkale ini adalah yang terbaik diantara 3 bus lainnya yang saya coba selama di Turki. Harga tiket Antalya-Denizli adalah 37 TL, dari Denizli baru naik Dolmus sekitar 3 TL ke Pamukkale. Tidak ada yang langsung ke Pamukkale. Dolmus ini apa si? Dolmus ini angkot-nya Turki lah. Mobil yang dipakai adalah elf, dengan cara membayar variatif, bisa saat naik, saat turun, atau oper2an ke penumpang yang duduk dekat supir saat mobilnya berjalan.
film di bus Pamukkale jauh lebih lengkap dibanding di bus Metro

suasana di dalem dolmus di malam hari

dolmus, alias angkot ala Turki
Oke, jadi kami menghabiskan waktu 2 hari 2 malam di Antalya dengan jadwal yang santai, dan saya sangat menikmati itu. Kami sempet ke mall MarkAntalya, Malik akhirnya beli jaket di situ seharga 69 TL, dan kami sempat juga beli perhiasan2 khas Antalya buat oleh2, murah2 euy dan ternyatas pas sampe Jakarta dan saya kasih oleh2 tersebut ke temen kantor, baru ketauan ada tulisan “made in China”, ngakak lah kami semua, udah jauh2 ke Antalya beli oleh2 ga taunya ga beda ama beli di mangga dua cuyyyy. Selama di sini kami selalu makan malam di samping hostel kami, harganya 10 TL dengan porsi yang bisa dibilang besar, karna ada nasi dan roti sekaligus. Namanya budget traveler, harus serba perhitungan lah ya untuk masalah ini, hehe.