Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Saturday, March 4, 2017

Fakfak My Second Home; January 2014

Oke, berkaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang ketamakan manusia yang suka foto2 tapi kemudian menjadi sampah di hardisk, maka saya lanjutkan kegiatan saya mengabadikan foto2 tersebut di sini beserta cerita di dalamnya. Sebelum postingan ini, saya posting foto2 jadul dari jaman SMA, baru 1 folder kemudian malas, hahaha. Kali ini karna ada hutang sama mama Ihsan untuk posting all about Fakfak, makanya saya buka2 lagi folder foto selama saya di Fakfak, yang dibagi berdasarkan bulan. Kali ini saya mau posting foto2 dari kegiatan saya di bulan Januari, sulit banget untuk pilih hanya 1 foto dari setiap foldernya yang kadang ada ratusan foto. Inilah foto2 terpilihnya, cekidot!



1.      Mandi Safar, salah satu budaya yang masih dijalankan setiap tahunnya mengikuti kalender Islam, kalau gak salah bulan Rabiul Awal. Di sini tradisi masyarakatnya mereka bikin tenda di lapangan hari sebelumnya. Keesokan hari, sebelum matahari terbit, seluruh masyarakat 1 kampung berduyun2 ke tenda yang mereka bikin kemudian masak makanan untuk dimakan 1 kampung. Mereke menggelar kain panjang di jalan setapak, kemudian menyajikan makanan yang sudah dimasak. Seperti biasa, ada hidangan wajib yaitu kopi, teh, pisang goreng, lontar (ini enak banget!), molen, dan tentu kore! Kore, hahaha, klo inget pertama kali saya makan kore suka ketawa sendiri. Dibuat dari kacang kenari yang ditumbuk kemudian digoreng, bentuknya seperti pasir, dimakan bersama dengan pisang, dalam hati saya waktu itu “oke, makan pisang pake pasir, hajar jri!”, itu sebelum saya tau bahan asli kore apa. Rasanya? Awalnya saya ga suka, seperti ngunyah pasir, tapi setelah beberapa kali makan malah saya sering nanya kalau lagi ada acara adat, “mama ada kore kah?”. Setelah makan besar 1 kampung, kami main air! Jadi setiap orang harus nyebur ke laut, trus supaya seru kita rame2 kejar2an satu sama lain untuk saling melempar orang lain ke laut. Tua, muda, laki, perempuan, semua kejar2an, cari orang untuk dilempar ke laut, bahkan bapak imam pun yang usianya udah sepuh dilempar ke laut, it was extremely fun! Setelah main air, yang laki2 main bole, yang perempuan main voli. Sore baru pada balik ke rumah masing-masing.

Anak-anak usia SD di sini beda banget dengan anak2 di kota. Benda tajam seperti parang ibarat pedang2an bagi anak2 kota, bedanya yang ini beneran. Mereka sangat terampil menggunakan parang. Keterampilan ini pun saya manfaatkan dengan memfasilitasi ide anak2 untuk bikin parapara di pinggir laut, semacam bale tempat duduk atau tidur2an, intinya tempat bersantai lah. 


Hari sabtu adalah harinya ekstrakurikuler, jadilah saat itu anak2 kerja bakti ada yang cari bambu, bersihin kelas, potong rumput di lapangan pakai mesin, dan membuat parapara. Semua dilakukan sama anak SD, gimana saya gak bangga sama mereka coba. Selesai parapara dibuat, ini pun jadi tempat favorit saya bersantai bersama anak2 sambil ditemani bunyi ombak dan angin laut yang gak pernah berhenti menyapa.

Foto ini diambil dari folder “goyang duyung”, hahaha, nama yang aneh. Jadi ini adalah saat kampung dihebohkan oleh warga yang lagi mancing tapi dapetnya ikan duyung. Kocaknya, saat kejadian ini di TV lagi rame banget sinetron putri duyung. Ternyata kepercayaan disini mengatakan kalau ikan duyung dulunya adalah manusia etnis tiongkok yang tenggelam di laut kemudian berubah wujud jadi ikan duyung, makanya sebelum dimakan, ada ritual adatnya dulu seperti foto di atas. Ikan duyung siripnya dilipat kemudian ditusuk kayu, telinga dan hidungnya ditusuk kayu, kemudian dibacain doa dan sambil menusuk kayu2 kecil tersebut tetua adat bicara sesuatu menggunakan bahasa kampung tarak sini. Setelah itu baru dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat di kampung. 


Sekampung pada ngumpul di 1 tempat ini buat liat ikan duyung, dan kocaknya karna kebanyakan orang diri di rumah kayu yang sebelah kiri, tiangnya pun rubuh dan orang2 pada jatuh, tapi untung gak ada yang luka yang ada malah pada ketawa2 rame banget, hahaha. Oiya, Menangkap ikan duyung ini bukan kegiatan rutin kok, setahun sekali pun tidak, kalau kebetulan ada yang ga sengaja kepancing aja baru dibawa ke darat dan dimakan. Saya sempet makan dagingnya yang sudah diolah, rasanya mirip2 daging rusa menurut saya. Tidak semua orang di kampung mau makan daging duyung karna kepercayaan orang sini yaitu dulunya duyung adalah manusia, unik.


Musim barat, momok buat warga kampung Tarak karena ombak laut menjadi ganas, angin kencang, dan hujan terus, sehingga masyarakat jadi sulit ke kota, begitu juga sebaliknya yang dari kota sulit kalau mau balik ke kampung. Tapi buat saya musim ombak seperti ini malah saat yang tepat buat main ombak di laut, hahaha *setelah itu diomelin warga*. Foto ini diambil di suatu sore saat saya asyik main ombak dengan anak-anak murid saya. Saat para pemuda asik main bola, saya malah kaya anak kecil yang asik main ombak. Lagi2 ada kearifan lokal di sini, jadi kata anak2 kalau mau ombaknya semakin besar kita harus melempar batu ke arah ombak datang, jadilah saat itu anak2 melempar batu ke lautan supaya ombaknya makin besar.


Maulud, di Distrik Karas, ritual keagamaan yang 1 ini justru lebih rame dari Idul Fitri, kenapa? Acara Maulud ini digelar di setiap kampung, ada 6 kampung di 1 distrik Karas, di acara Maulud ini seluruh tokoh agama dan anak2 muda dari 6 kampung berkumpul di 1 kampung yang sedang bikin acara Maulud. Jadi tiap kampung bergantian bikin Maulud. Nanti 1 kampung ditunjuk jadi penutup, nah penutupnya ini lah yang bakal super rame. Acara intinya di sini adalah baca doa, shalawat sambil main marawis, makan besar, setelah itu anak2 muda main marawis keliling kampung sambil shalawatan, dan mintain beras ke rumah-rumah. Sumpah ini acara seru banget, meriah! Setiap rumah sibuk membuat makanan, bahkan saya ikutan bikin kue waktu itu, bikin onde2 susu sama puding di rumah mama tua. Damn! I really miss them now :(


Ini adalah iring2an ke masjid sebelum shalawatan dan baca doa. Beberapa tokoh adat membawa Al Qur’an yang udah tua banget, buku doa dan shalawatan, air putih, dan kemenyan. Kemenyan ini adalah sesuatu yang gak bisa dilepas dari segala ritual keagamaan. Jadi sambil baca doa nanti bapak imam bakar kemenyan, awalnya saya agak risih karena baunya tapi lama2 ya biasa aja sih, karna tiap acara pasti saya duduknya ditempatin di sebelah bapak imam, jadilah baunya santer banget.


 Foto ini diambil saat perpisahan dengan ibu kepala sekolah, karena beliau dipindahtugaskan ke kampung yang lain. Meski banyak drama yang terjadi sebelumnya, tetep yang namanya perpisahan itu menyedihkan sih, anak2 yang innocent tetep merasa kehilangan sosok beliau. Saya pun berkaca2 terus sepanjang pengambilan gambar. Setidaknya beliau sempet ke Jakarta untuk antar siswanya yang lomba menulis waktu itu, jadi ada kenang2an yang berharga lah atas jasa2nya selama ini.


 Nemo Family! Waktu saya ke Fakfak saya sengaja beli kamera underwater saat tau penempatan saya di pulau, sayang donk kalau keindahan bawah laut pulau ini gak diabadikan. Sebagai bentuk kepercayaan saya juga sering kasih kamera saya ke anak murid buat mereka berkreasi di bidang fotografi. Ternyata, hasil foto siswa saya Moksen, bagus banget! Ini adalah hasil jepretannya saat kami molo2 alias menyelam liat karang di depan pulau. Yep, dulu saya kalau mau snorkeling cukup melakukannya di depan pulau kami, gak perlu jauh2, what a heaven!


....and I catched this sunrise from my heaven, my second home, Tarak....

Friday, February 26, 2016

Short Escape to Cirebon

















Bagi saya, sering kali keseruan liburan itu bukan karena tempat tujuannya, tapi karena teman perjalanannya. Kenapa? Karena kalau fokus hanya di tujuannya alias tempatnya, dan ternyata tempatnya tidak sesuai ekspektasi maka hancurlah sudah mood ini. Sudah tempatnya gak sesuai ekspektasi, temen perjalanan ikut ngedumel juga dan malah nyalahin yang rekomendasikan tempat, yaudah BYE! Saya penganut setia paham Trinity Naked Traveler, “it’s not about the destination but the journey”, maka inilah yang selalu saya gembor2kan tiap kali saya mengelola sebuah trip bersama teman2 saya.

“The journey”, inilah kenapa saya lebih milih “pergi sama siapa” dibandingkan “pergi ke mana”, karena ketika teman perjalanannya udah asyik, easy going, gak manja, mau susah, gak akan masalah tuh kalau tempatnya akhirnya ga sesuai ekspektasi, atau kalau tiba2 di perjalanan ada kejadian tak terduga, dan kejadian2 gak mengenakkan lainnya, seluruh kejadian selama perjalanan akan dinikmatin dan dibuat asyik bareng2. Ini juga lah alasannya akhirnya saya memutuskan ikut trip ke Cirebon, tempat yang awalnya menurut saya biasa dan gak seru2 banget, tapi karena perginya sama temen yang (kayanya) seru makanya saya mengiyakan ajakan tersebut.













Lima anak alay kota mencari penghiburan saat weekend ditengah kepenatan bekerja. Jumat sore kami kumpul di Gambir, dengan tiket kereta seharga 135ribu kami siap lari sejenak dari ibu kota. Kereta malam pun melaju dengan nada jugijagijuk ala elvi sukaesih. Saat berangkat kami duduk berbeda gerbong, 2 teman kami asyik tertidur di perjalanan sedangkan saya asyik bercerita dengan bu sutradara. Oiya, saya belum bilang, 5 orang ini adalah anak2 Rentak Harmoni yang-gagal-move-on.

Sampai di Cirebon kami langsung cari nasi jamblang, konon nasi jamblang ini terkenal sekali di Cirebon. Bentuknya seperti nasi kucing, bedanya nasinya disajikan menggunakan daun jamblang (daun jati) sebagai pembungkusnya. Nasi jamblang Mang Dul, di sinilah tempat kami mengisi perut yang sengaja tidak diisi dari Jakarta, hasilnya? Ini adalah nasi jamblang terenak yang pernah saya makan! *mungkin karena ini pertama kalinya kamu makan nasi jamblang kali ya jri -_-





















Selesai makan kami langsung ke hotel, Hotel Asri namanya. Sebenarnya banyak cerita lucu di hotel ini, tapi untuk kemaslahatan bersama sebaiknya off the record saja. Hotelnya menurut saya sangat nyaman, kamarnya luas, kamar mandinya oke, ada kolam renang dan tempat gym juga, dan di lantai dasar ada super market, very recommended. Berbeda dengan trip2 saya sebelumnya yang kebanyakan nginep di rumah warga, home stay, atau losmen, kali ini karna nginepnya di hotel jadi ada waktu lebih banyak untuk leyeh-leyeh menikmati setiap momen, berenang jadi pilihan saya untuk menghabiskan pagi di hotel.
*pemandangan dari salah satu sudut hotel*
















                                    Jika sebelumnya saya cenderung menjadi flash packer yang setiap trip pengennya ke banyak tempat, kali ini saya mendapat pengalaman trip gaya baru yang lebih santai. Trip 2 hari 2 malam ini kami hanya mengunjungi 2 tempat saja, Telaga Nilem dan Gua Sunyaragi. Enaknya jadi flashpacker kita jadi bisa mengunjungi banyak tempat, tapi gak enaknya adalah jadi kurang menikmati karena seperti dikejar2, jadi kesannya cuma dateng trus foto2 trus udah. Nah, kalau yang kemarin meski hanya ke-dua tempat saja tapi kami menikmati banget momennya, quality time dengan teman2, foto2, makan2, ngobrol2, santai, relax, tidak dikejar2, sangat menyenangkan.

Telaga Nilem, butuh waktu 1,5 jam dari hotel untuk menuju tempat ini. Akses jalannya sudah bagus, tapi di petunjuk jalannya yang tertulis Telaga Remis bukan Telaga Nilem. Di sini ada sebuah kolam telaga yang cukup besar, seukuran kolam renang telaga pada umumnya. Air di telaga ini jernih, dingin, dan menyegarkan sekali. Sangat direkomendasikan untuk membawa kacamata renang kalau mau berenang di sini, karna bisa keliatan hijaunya dasar telaga ini. Sangat tidak direkomendasikan membawa sampo, sabun, apalagi detergent beserta cucian kotor karna akan sangat menggoda untuk nyuci-nyuci cantik di pinggir telaga ini. Ayo kita jaga kebersihan tempat wisata yang kita kunjungi ya! Oh iya, untuk masalah kostum, jangan hanya gunakan Instagram untuk referensi outfit kamu ke sana ya, bisa2 salah kostum nanti kaya temen saya yang kesana pakai bikini baju renang mini.
*keliatan banget kan kalo kami (kaya) akrab :p





















Setelah asyik berenang, foto2 dengan berbagai gaya, berenang lagi sampai tangan keriput, perut pasti laper, nah yang paling asyik adalah di sini ada ibu-ibu penjual sorga dunia; mie rebus+telor! Lagi kedinginan trus makan mie rebus+telor+gorengan, yang ada di kepala saat itu cuma bisikan halus “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” *teary-eyed*. Nah, sayangnya di sini tidak ada tempat nyaman untuk bilas ataupun ganti pakaian, jadi ya harus cari semak2 untuk ganti pakaian basah kita, untuk yang wanita saya kurang perhatikan, tapi sepertinya ada tempat yang lebih tertutup dibandingkan semak-semak atau dibalik bebatuan.

Selesai dari Telaga Nilem awalnya kami mau ke pemandian air panas palimanan, tapi karna capek dan males nyasar2 cari lokasi akhirnya kami memutuskan untuk ke batik Trusmi. Selama di Cirebon kami sewa Yaris dan yang nyetir adalah temen kami, sebut saja Meiske, seorang perempuan urban yang bisa mengendarai berbagai jenis kendaraan di berbagai medan, sedangkan 3 cowok di rombongan ini hanya bantu doa sambil setia nyuapin snack ke cici Meiske supaya tetap fokus nyetir. Pulang dari Telaga Nilem kami tentu kelelahan, tapi ancaman diturunin di tengah jalan dari cici Meiske membuat kami secara impulsif nyanyi2 semua lagu Rentak Harmoni dari adegan 1-18 untuk menghilangkan kantuk *sambil impersonate dengan lebaynya gaya bernyanyi masing2 pemeran*. Di tengah teriakan dan lolongan kami saat bernyanyi, 2 orang tetap saja pules, sebut saja Elung *bukan nama sebenarnya* *bukan juga alat transportasi yang digunakan di film2 silat* *eh, itu elang!*, dan juga bu sutradara.
*salah satu foto favorit hasil jepretan bu sutradara*





















Saat hampir sampai ke Batik Trusmi kami memutuskan untuk jalan terus, gak mampir karna ga ada yang memang niat belanja, dan tujuan pun dilanjutkan ke Empal Gentong H. Apud. Ini tempat recommended banget, sate kambing mudanya, empal gentong, empal asem, semua rasanya nendang! Perut kenyang hati riang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Klapa Manis. Tempat ini asyik banget buat nongkrong sama temen2, bisa liat city light Cirebon, ada live music, dekorasi tempatnya antik, luas juga, makanan dan minumannya enak gak mengecewakan, very recommended lah! Selesai makan2 kami foto2 dengan berbagai gaya dulu di sini, lightingnya oke bro!














Setelah sport jantung sebentar karena ganti sopir, sampe juga kami di hotel. Dan hari itu ditutup dengan makan nasi jamblang deket hotel.

Hari kedua, lokasi yang kami kunjungi berikutnya adalah Gua Sunyaragi. Kami baru cabut dari hotel jam 11-an setelah leyeh2 di hotel pagi harinya, ada yang renang, ngegym, dll. Gua Sunyaragi disebut juga Tamansari Sunyaragi, diambil dari bahasa Sanskerta; Sunya artinya sepi, Ragi artinya raga. Tujuan utama dibuat Tamansari ini adalah untuk tempat meditasi dan istirahat para Sultan dan keluarganya. Banyak ruang2 sempit yang bisa ditelusuri di Gua Sunyaragi ini, dulunya Gua ini merupakan taman air dan dikelilingi oleh sebuah danau, yaitu Danau Jati, tapi sekarang danaunya sudah kering dan dijadikan jalan raya. Bagian luar Gua Sunyaragi ini bermotif batu karang dan awan, cantik sekali.















Serunya mengunjungi situs budaya kaya gini tuh kalau ada pemandu wisata yang bisa ceritain asal usul tempat ini, tapi sayangnya waktu itu tidak ada guide yang nawarin diri, jadilah kami menelusuri tempat ini dengan imajinasi masing2 di kepala kami. Kontur Gua Sunyaragi tidak datar, ada bukit hijau kecil di bagian belakang, membuat kami tidak bosan menelusuri tiap jengkal tanahnya. Sayangnya waktu itu sudah menjelang jam 2 siang dan kami harus segera ke stasiun untuk balik ke Jakarta. Niatnya si mau beli oleh2 dulu sebelum pulang, tapi daripada ketinggalan kereta akhirnya kami lanjut terus langsung ke stasiun. Di saat yang lain asyik terlelap di kereta menuju Jakarta, diri ini masih asyik menikmati dan tak ingin rasanya mengakhiri momen2 yang terasa berjalan begitu lambat ini. 

Perjalanan ini sukses memberikan saya pengalaman baru dalam dunia traveling. Jika dunia ibarat sebuah buku, maka 1 halaman lagi yang selesai kubaca *sambil menanti tuk membaca ratusan atau bahkan ribuan halaman lagi.























*) all pictures were taken by bu cici meiske, bu sutradara, umur

Tuesday, February 2, 2016

Kata Mereka Tentang Rentak Harmoni


Dari kemarin ingin sekali nulis tentang Rentak Harmoni (RH) tapi apa daya diri ini masih terlalu emosional dan baper jadinya malah stuck bingung mau mulai dari mana, semua perasaan nyampur jadi satu persis kaya gado-gado. Jadilah iseng-iseng nanya temen2 yang nonton RH kemarin, tentang kesan dan hal positif apa yang mereka dapat setelah nonton RH. Mereka ini adalah orang yang tidak ada hubungannya dengan IM sama sekali, jadi pendapatnya saya rasa cukup objektif, sepenuhnya dari kacamata penonton.

Pertama dari nyokap dulu deh, beliau seneng banget karna ini pertama kali nonton drama musikal, dan ibuku baru tau anaknya bisa nyanyi *thanks to tim musik dan seluruh teman2 yang udah bantu sepenuh hati dan sabar melatih saya bernyanyi dengan benar*, tapi kemudian ibu mengeluh kenapa saya kerjanya marah-marah mulu di situ, hehehe. Ibu paling suka pas babak kedua setelah istirahat, karena babak pertama katanya lambat banget alurnya dan monoton. Favorit ibu sudah pasti Nara dan Sigra, suaranya bagus banget katanya, perempuannya pinter banget komunikasinya. Overall emosi nontonnya lengkap, ada sedih, tegang, lucu, tapi kebanyakan nari katanya *semacam ga rela liat anak lakinya joget2*



Berikutnya adalah pendapat teman2 kantor saya yang dengan terpaksa tanpa paksaan sama sekali nonton RH kemarin. Sebelumnya mau special thanks dulu ah buat bu bos mba Niar yang udah beli 3 tiket VVIP, dan bukan cuma itu tapi juga dukung saya banget, sampe belain saya untuk stay di Jakarta saat saya diminta tugas keluar kota selama 1 minggu di minggu terakhir latihan, thanks ya mbake, it means a lot :)

Supaya gak terlalu panjang saya rangkum aja pendapat mereka. Apa sih yang kalian dapet setelah nonton RH?
Andreas:
  • Perubahan yang lebih baik itu bagus, tapi jangan sampai mengorbankan semua kebiasaan baik yang harusnya dijaga atau ditanamkan turun temurun. Kita harus siap menghadapi perubahan yang terjadi, caranya dengan memperkaya pengetahuan yang kita punya
  • Persahabatan itu harus dijaga, karena persahabatan yang positif membantu kita untuk mengingatkan kalau kita salah jalan
  • Untuk melakukan hal positif itu dimulai dari hal kecil, ga perlu diliat orang, yang penting kita percaya yang kita lakukan itu benar.
  • Tetap hormati orang tua

Namira: Kesan gua tentang RH salut sama relawannya, disaat semua orang berjuang untuk diri masing-masing mereka masih meluangkan waktu berkegiatan positif untuk tujuan positif. Can't imagine my peer needs to keep practicing dialogue, choreography, and lyric as well while I know the workload at our office is superb, lol!

Gua paling suka kakek Smong, some of his quote made me shed my tears, ahahahah. We need to be good, do good, be positive no matter what how others does. "Tidak pernah ada yang selalu baik maupun selalu buruk. Kadang-kadang kita perlu bersentuhan dengan yang lebih baik untuk memahami kekurangan kita tapi kadang-kadang kita juga perlu bersentuhan dengan yang lebih buruk untuk mensyukuri kebaikan yang Tuhan anugerahkan pada kita. Kalian tahu Rwa Bhineda?" - Kakek Smong - Tapi endingnya cepet banget, gak diliatin prosesnya tau2 udah happy ending.

Niken: Suka sama lagu2nya, sama dialognya yang mengalir ringan, ditambah gimmick dan celetukan yang khas.Kalau soal jalan cerita honestly bisa kebaca dari awal. Durasinya juga kepanjangan, karna bawa bocah jadi agak waswas menjelang akhir karna udah malem banget. Gua suka spirit kalian as volunteers, totalitasnya, kebersamaannya, chemistry-nya. Suka banget pas all casts tampil bareng di akhir acara. Gw suka liat wajah2 yang ceria, bersemangat dan ga dibuat2. I really enjoyed the show. Gw sebagai penonton ngerasain energi positif kalian, dan menurut gua itu kesan yang paling penting.

Mba Inuk: Bagus banget, high quality! Aku pernah nonton Wicked di London, sama senengnya :). Aku paling ketawa pas segmen Sigra sama Lena dan keluarganya. Ayah Nara galak, aku takutt. Paling suka dialog Nara dan Sigra, "Kalau kamu bingung, tandanya kamu berpikir." "Sesuatu yang baik itu tidak akan membuat kamu resah." Karya anak2 muda Indonesia bagus2, satu lagi, pendidikan tinggi itu penting, tapi jangan sampai kehilangan nurani.


Mega: Suka musiknya! Dari ide ceritanya juga banyak pesan moral, yang bagian menjaga tradisi tapi tetap membuat maju itu. Pesannya disampaikan dengan simpel ya karna dimasukkin dialog2 kekinian juga. Cara menyampaikannya sih yang oke banget, gak bikin bosen, bisa ngikutin per adegan sampe akhir walaupun banyak adegannya. Tapi kekurangannya abis kegiatan ini selesai yaudah selesai gitu aja. Mungkin harus ada program lanjutannya kali ya, biar jagain momennya. (Ide bagus nih, seharusnya di buku acara dikasih juga informasi berbagai wadah positif yang bisa diikuti oleh para audiens yang berniat berkontribusi lebih melalui kerumunan positif).


Mba Niar: Banyak banget pelajaran yang kami (doi & suaminya) dapat, kami sangat berterima kasih sekali diundang (meski bayar), It worth more than what we've paid. Petuah2 dari kakek Smong jadi bikin hidup lebih semangat, bahwasanya di dunia yang penuh dengan segala masalah dan kegaduhan ini masih banyak kesederhanaan dan hal2 yang baik yang bisa membuat manusia itu bahagia dengan apa yang dia miliki, dan kami jadi malu dan bersyukur sama Tuhan.

Kalau aku sendiri yang sangat menyentuh adalah pada saat Ayah Nara menyuruh Nara pergi menuntut ilmu keluar dari kampungnya. Seluruh kejadian itu terjadi in real life gue, and my dad said exactly the same. Di adegan ini gw nangis seperti anak kecil, karena gw merasa gw belum berterima kasih atas pengorbanan orang tua gw saat itu, sementara saat ini gw udah menikmati hasil kerja keras dan keringat serta tetes air mata mereka saat melepas anak perempuan satu2nya pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu.

Di sini gua juga belajar jadi pemimpin yang bijaksana, bahwa pemimpin yang baik dan berhasil itu adalah yang tau apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya/bukan apa yang mereka inginkan. Serta sesuatu yang baik itu tidak harus diubah/diganti untuk menjadi maju dan berkembang. Paling suka dialog kakek Smong yang ini: “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.” Kakek percaya kau yakin benar dengan tujuan hidupmu. Jadi, ke manapun langkahmu saat ini harus menuju, kau pasti akan terus melangkah ke tujuan yang sudah kau tetapkan. Kakek percaya suatu hari nanti kau akan melakukan satu hal yang dahsyat karena tujuanmu baik. Bersemangatlah!"

Itulah cuplikan testimonial dari para penonton RH, dari kesemua testimonial tersebut bisa disimpulkan bahwa pesan yang ingin kami sampaikan tersampaikan dengan sangat baik. Alhamdulillah doanya terkabul sudah. Semoga semakin banyak orang yang terinspirasi untuk berbuat lebih bagi ibu pertiwi. Salam Warita Dikara :)

Monday, May 11, 2015

Peucang?

Setelah sekian lama tidak membuat FR, kali ini mau mencoba menuliskan pengalaman perjalanan yang baru saja dilakukan. Trip kali ini tujuannya adalah Pulau Peucang, di Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten. Temen jalan kali ini adalah temen-temen Pengajar Muda VI dan beberapa teman kantor, yang meski baru ketemu tapi asyik banget buat diajak seru-seruan, totalnya 17 orang berkumpul mencari penghiburan di tengah aktivitas monoton di ibu kota.

Perjalanan menuju pulau Peucang cukup lama, pertama kita harus melewati jalur darat selama 6 jam, kemudian disambung via laut 3,5 jam. Bagi kami yang sudah lama tidak bertemu, trip ini jadi seperti reuni kecil yang membuat perjalanan tidak berasa karena keasikan ngobrol. Sepanjang perjalanan laut, saya pilih duduk di atap kapal kayu yang kami tumpangi. Absen kena angin laut selama 3,5 bulan membuat diri ini kangen setengah mati dibisiki melodi dari angin laut dan diayun gelombangnya. Tapi sayang, sepanjang perjalanan banyak sekali sampah terapung di laut, khususnya sampah plastik, padahal udah masuk kawasan taman nasional :(


Secara umum kegiatan selama di sana adalah snorkeling, swimming, canoing, dan jumping, yang terakhir itu kami yang buat sendiri. Bicara spot snorkeling, di sini trumbu karangnya agak kurang si klo menurut saya. Kurang berwarna dan ikannya pun tidak banyak. Mungkin juga ini dipengaruhi oleh cuaca yang mendung selama kami snorkeling kali ya, jadi jarak pandang tidak terlalu baik. Di sini saya lebih menikmati berenang2nya saja karena tidak menikmati snorkelingnya sama sekali. Akhirnya main2 saja dengan teman2, permainan dengan murid2 saya dulu ketika di Papua, yaitu menyelam ke dasar dan mengambil pasir di bawahnya. Lumayan asik juga bagi yang baru tau permainan ini, hehe.


Selesai snorkeling di satu spot, kami berlanjut ke spot berikutnya, di sini kami melempar jangkar di dekat pulau. Maunya si makan siang di pulau tersebut karna terlihat lumayan bagus, tapi dengan alasan makanan tidak bisa dibawa ke darat akhirnya kami pun makan di kapal. Sebelumnya kami sempatkan dulu snorkeling di spot ini, hasilnya? Tidak beda jauh dengan spot sebelumnya. Oleh karena jarak ke pantai tidak terlalu jauh, saya pun berenang ke pantai. Awalnya saya beramai-ramai dengan teman yang lain berenang ke pantai, tapi karna ada yang merasa ditusuk bulu babi semua pun kabur kembali ke kapal, sedangkan saya karna kaki saya kram saya putuskan ke pantai saja sekalian supaya kramnya hilang. 


Snorkeling sudah, berenang sudah, kami pun makan siang di kapal sambil bergoyang2 mengikuti ayunan ombak. Selesai makan kami snorkeling lagi dan berenang lagi sampai sore. Selanjutnya kapal berlayar kembali menuju tempat peristirahatan kami di pulau Handeleum. Oiya di spot snorkeling ini sempet terjadi insiden, teman kami terjebak di karang di pinggir pantai. Maksud hati mau ke darat ternyata tidak bisa karena terhalang kumpulan karang yang sangat tajam, ingin kembali ke kapal pun setengah mati karena tersapu ombak berkali-kali. Jadilah teman-teman yang membantunya berdarah-darah mulai dari tangan, kaki, badan, bahkan sampai bagian pan*at.



Selesai bersih2 malam harinya kami asyik main werewolf sampai tengah malam. Permainan werewolf memang paling asyik dimainkan ramai2 seperti ini, dari permainan ini pula somehow kita jadi tau karakter teman2 kita. Apalagi dari 17 yang ada di sini hanya 3 orang saja yang tau permainan ini, jadilah permainan terasa sangat mengasyikkan karena semua antusias.


Esok harinya adalah kegiatan paling asyik menurut saya, yaitu canoing. Canoing di sini adalah menyusuri sungai kecil dengan warna air hijau, dikanan kirinya lebat dengan pepohonan, dan suara2 hewan yang memanjakan telinga. Saya jadi teringat saat saya melakukan kegiatan sejenis di Papua sana, orang sana menyebutnya menyusuri "hol". Entah darimana kata itu berasal, apakah dari kata "hole", saya juga kurang paham.


Di hari kedua ini kegiatan asyik yang kami buat sendiri adalah lompat dari atas atap kapal kayu yang kami tumpangi. Ketinggian kurang lebih 3 meter, tidak terlalu tinggi memang tapi cukup memacu adrenalin juga awalnya. Sekali lompat, pasti ketagihan. Awalnya teman-teman banyak yang tidak berani, apalagi yang perempuan, tapi setelah dimotivasi berkali2 akhirnya mereka mau juga satu persatu lompat ke laut, dan lucunya semua pun ketagihan dan melakukan yang kedua, ketiga, bahkan keempat kalinya.

Selesai bermain-main di laut kami pun kembali ke darat. Begitu sampai di darat kami disajikan sunset yang luar biasa indahnya. Sudah lama tidak lihat sunset seperti itu sangat mengobati kerinduan saya sama keindahan alam di saat senja. 


Setelah asyik melihat sunset, kami pun bersih-bersih dan bersiap kembali ke realita di Jakarta. Oiya di trip kali ini saya rada malas ambil foto, waktu sunset pun saya tidak memotretnya, saya asik menikmati sunset sambil mengobrol dengan teman saya, hanya memotret dengan kamera terbaik di dunia, yaitu mata. 

Trip kali ini secara umum sangat menyenangkan, tapi bisa dibilang faktor terbesar yang membuat trip ini menyenangkan adalah teman-temannya. Sedangkan pengelola tripnya sangat jauh dari memuaskan menurut saya. Sekali lagi ini membuktikan ke saya, tidak penting pergi kemananya, yang penting pergi dengan siapa. Karena seperti yang Trinity bilang, it's not about the destination but the journey :)


*pictures were taken by Laura, Naldo, and me