Thursday, May 11, 2017

Secarik Catatan di Negeri Ottoman (Part 5)

Bencana Turkish Breakfast. Wah, ada apa nih? Yap, kami sampai di Goreme sekitar jam 8 pagi, setelah ganti baju dan bersih2 di toilet seharga 1 TL kami pun cari makan. Sebagai budget traveler saya sangat memperhatikan biaya donk ya, dicarilah yang paling murah yaitu omelet seharga 13 TL (telor doank bro seharga hampir 50 rebu!). Di setiap tempat makan di Turki, roti adalah pelengkap dan itu biasanya gratis, makanya kami pesen telur aja saat itu ngerasa cukup *padahal terpaksa*. Lah tapi si waiter bawain segala macam “pelengkap” lainnya nih, pikir kami saat itu “woww banyak banget pelengkapnya, jadi ga nyesel nih pesen omelet doank”. Waktu itu ada madu, strowberry, irisan daging, berbagai sayuran, keju, yogurt, itu yang saya inget.
source: http://bit.ly/2pliznN
Selesai makan waktu minta bill kami berdua kaget, lah kok 75 TL? Ternyata itu bukan pelengkap gratis seperti roti, jadi modelnya kaya rumah makan padang gitu, yang disajikan semua dan kita harus bayar apa yang kita ambil. Usut punya usut ternyata itu adalah paket lengkap Turkish Breakfast. Setelah dikonvert ke rupiah trus saya mikir, itu adalah sarapan paling mahal seumur hidup saya, 270 ribu berdua coy! Kami pun memberikan lembar demi lembar uang lira kami sambil menatap nanar si waiter. Anyway, saya gak suka banget yoghurt Turki, rasanya kaya susu basi :(
tampang before-after kejebak turkish breakfast
Selesai makan kami ketemu sama host kami di Cappadocia, namanya Cihan, tapi karna huruf “c” di Turki dibaca “j”, jadi ya dipanggilanya “Jihan”, and yes, itu nama umum buat cowok2 di sana, dan gak ada tambahan Fahira dibelakangnya, ntar Primus nongol *ketauan generasinya. Cihan ini adalah tour guide di sini, jadi selain numpang tidur di rumahnya kami ikutan tour dia juga, tentu bayar secara profesional ya. Harga Green Tour saat itu 110 TL, kami ke 4 tujuan yaitu Derinkuyu Underground City, Ihlara Valley, Selime Monastery, Pigeon Valley.
pintu masuk Derinkuyu Underground City
Underground City, seperti namanya, ini bisa dibilang sebuah kota yang ada di bawah tanah. Dibuat oleh orang2 Yunani yang menghindari bangsa Romawi karna mereka memeluk agama Nasrani. Saat itu Romawi masih menganut Paganisme, dan ajaran Kristen dianggap ancaman bagi mereka, jadilah orang Kristen dikejar2 untuk dibunuh. Suhu dibawah sini dingin sekali, dan saat itu mereka menggunakan kulit binatang untuk membuatnya hangat. Ada banyak ruangan dan gereja juga di bawah sini, meski sudah lebih dari 1000 tahun tapi masih terpelihara, keren lah pokoknya.


Perjalanan kami lanjutkan ke Ihlara Valley, ini adalah tempat favorit saya di Cappadocia, like a paradise *lebay. Sebuah lembah yang sangat indah dikelilingi oleh tebing tinggi, ada sungai mengalir di sebelah jalan setapak yang kami lewati, pepohonan yang masih dalam kondisi meranggas karna musim dingin, suara burung yang bersahutan, pokoknya peaceful banget lah ini tempat. Di sini tidak ada orang lokal yang tinggal, jadi memang khusus buat wisata saja. Musim terbaik untuk ke sini adalah musim panas karna didominasi oleh warna hijau pepohonan dan bunga-bunga. Saat kami ke sana meski sudah masuk musim semi tapi masih banyak pohon yang belum hijau kembali karna suhunya masih dingin. Nah, gak enaknya ikut tour adalah harus serba cepat, jadi ya sayang aja pemandangan sebagus ini hanya bisa dinikmatin sebentar aja.







Selime Monastery, komplek gereja, chapel, katedral, dan sekolah buat para calon pastur. Cappadocia ini menarik, dulu tempat ini dihuni oleh orang2 Yunani yang memeluk agama Kristen, tapi sejak Turki menjadi Republik ada kesepakatan antara pemerintah Yunani dan Turki untuk tukar penduduk. Penduduk Yunani yang ada di Turki pindah ke Yunani, begitu juga sebaliknya. Karena itulah semua tempat ibadah yang ada di Cappadocia ini sudah tidak lagi digunakan, tapi tetap dijaga dan dipelihara dengan baik untuk kepentingan wisata. Bukan hanya tempat ibadah, tempat tinggal penduduk yang ada di gua batu pun hampir semua sudah berubah jadi hotel.







Terakhir kami ke Pigeon Valley, kirain ada apa, ternyata kami hanya melihat dari atas sebuah lembah dibawah kami. Kenapa namanya Pigeon? Karena di sini banyak burung dara, gak sampe 30 menit juga kami di sini. Setelahnya dibawa ke tempat oleh2 Turkish Delight, sama toko perhiasan khas dari Cappadocia. Yah namanya juga ikut tur ya, pasti lah diajak ke tempat beli oleh2. Tentu lebih enak ke tempat2 ini sendiri, tapi sayangnya tidak ada transportasi umum menuju tempat ini, jadi pilihannya ya rental mobil sendiri, hitchhiking, atau jalan kaki. Lah tapi kalau jalan kaki baru sampe esok harinya kali ya, karna jarak Goreme-Ihlara Valley itu sejauh 83 km, kalau naik mobil 1 jam-an lah, sedangkan ke Derinkuyu itu jaraknya 37 km. Jadi bisa dibilang buat solo traveler, atau yang cuma berdua, paling pas ya ikut tour lah, dapet makan siang gratis pula.



Green tour ini dari jam 9.30 sampai jam 6 sore, setelahnya kita bisa hunting sunset sendiri, karna sunset saat kami disini sekitar jam 7.50-an malam. Sunset yang saya lihat saat itu adalah salah 1 sunset paling keren. Dari atas bukit kami melihat berbagai rumah batu yang menjulang dengan berbagai bentuknya yang eksotis, dan matahari yang terbenam di balik bukit di depan kami sukses membuat siluet yang sempurna.

Puas menikmati sunset, kami dijemput Cihan dengan mobilnya untuk sama2 ke rumahnya, dannnnn, saat itulah dia kasih kabar buruk bahwa esok subuh kami tidak bisa naik balon udara karna cuaca yang gak baik, windy katanya. Hal tersebut membuat kami harus extend 1 malam lagi untuk mencoba peruntungan demi naik balon udara, yang ternyata meski sudah extend 1 malem kami masih belum cukup beruntung karna cuaca malah makin buruk.

There is always the 1st time for everything katanya, dan ini adalah pengalaman pertama saya nginep di rumah orang yang sama sekali asing, menggunakan couchsurfing. Cihan ini host yang sangat amat rapi dan bersih rumahnya, bahkan sampe toiletnya pun bersih dan rapi luar biasa, baru kali ini saya lihat tempat tinggal anak bujang serapi dan sebersih ini. Sebenernya tergoda buat foto toiletnya tapi ga jadi karna ngerasa itu privasi mereka. Mulai dari hair dryer sampe segala sabun, sunblock, cream, lengkap banget ada di toilet. Jadi ngerti kenapa cewek dan cowok turki terlihat modis banget, ya karna mereka sangat memperhatikan penampilan, hair dryer adalah barang wajib di tiap kamar mandi dan itu bukan untuk wanita saja lho ya.

Setelah asik ngobrol tentang banyak hal sama Cihan dan flatmate nya, Umit yang suka banget ngobrol politik, kami pun istirahat dalam damai. Persiapan esok harinya karna kami akan jalan kaki nonstop melewati berbagai lembah dan bebatuan eksotis di sepanjang Rose Valley dan Love Valley.

2 comments:

sabakukyu said...

jrie..
aduh tulisan lo banyak sekali yang menarik untuk dicomment,
tapi sayang gw gak bisa comment langsung dari apps wordpress :(
ribet soalnya klo buka dari browser..
semoga wordpress meng-update appsnya dah..

Fajrie said...

dan gua pun baru baca komen lu slih, hahaha
iya semoga wordpressnya segera diupdate ya jadi bisa kasih komen2 lagi, hahaha